Minuman Manis Berlebih Dapat Picu Kerusakan Fungsi Ginjal

  • 08 Mar 2026 16:42 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh : Kebiasaan mengonsumsi minuman manis secara berlebihan dapat meningkatkan risiko gangguan fungsi ginjal. Masyarakat diimbau lebih bijak dalam memilih makanan dan minuman serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala untuk mendeteksi gangguan ginjal sejak dini.

Hal tersebut disampaikan oleh Dr. dr. Desiana, M.Ked (Clin Path), Sp.PK Subs HK, dokter spesialis patologi klinik di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh, dalam program dialog kesehatan Klinik Angkasa Program 1 RRI Banda Aceh, Sabtu (7/3/2026).

Dalam siaran tersebut, Desiana menjelaskan bahwa tren minuman kekinian yang umumnya tinggi gula tetapi rendah nilai gizi menjadi salah satu faktor yang dapat membebani kerja ginjal, terutama jika dikonsumsi secara berlebihan dan dalam jangka panjang.

“Banyak minuman sekarang yang menarik dari segi warna dan rasa, tetapi sebenarnya kandungan gizinya sangat minim dan lebih banyak mengandung gula. Jika dikonsumsi terus-menerus, hal ini dapat memperberat kerja ginjal dalam menyaring limbah dari tubuh,” ujarnya.

Menurut Desiana, ginjal berperan penting dalam menyaring racun dan limbah metabolisme dari darah untuk kemudian dikeluarkan melalui urin. Ketika tubuh menerima asupan gula, garam, atau zat tambahan makanan secara berlebihan, ginjal harus bekerja lebih keras untuk membuang zat-zat tersebut.

Ia menambahkan bahwa sering kali seseorang baru menyadari adanya gangguan ginjal setelah muncul gejala tertentu, seperti pembengkakan pada kaki atau wajah. Kondisi tersebut terjadi karena racun yang seharusnya dikeluarkan melalui ginjal justru tertahan di dalam tubuh.

“Karena itu, pemeriksaan laboratorium menjadi sangat penting untuk mendeteksi gangguan ginjal sejak dini. Pemeriksaan yang umum dilakukan antara lain tes urin, ureum, kreatinin, hingga pemeriksaan laju filtrasi ginjal atau eGFR,” kata Desiana.

Selain itu, kadar gula darah yang tinggi juga dapat menjadi pemicu penyakit diabetes yang dalam jangka panjang berpotensi merusak ginjal. Ia menyebutkan bahwa kadar gula darah sewaktu idealnya tidak melebihi sekitar 110 mg/dL, sedangkan kadar gula darah puasa sebaiknya berada di bawah 100 mg/dL.

Dr. dr. Desiana, M.Ked (Clin Path), Sp.PK Subs HK, dokter spesialis patologi klinik di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh, dalam program dialog kesehatan Klinik Angkasa Program 1 RRI Banda Aceh, Sabtu (7/3). Foto : RRI/Lis

Desiana juga mengingatkan bahwa gangguan ginjal kini tidak hanya dialami oleh kelompok usia lanjut, tetapi mulai ditemukan pada usia yang lebih muda, bahkan pada anak-anak dan remaja. Hal ini berkaitan dengan perubahan gaya hidup, pola makan, serta konsumsi minuman manis dan makanan olahan yang semakin meningkat.

“Sekarang kita sudah menemukan kasus gagal ginjal pada usia muda, bahkan ada yang masih anak-anak dan sudah memerlukan hemodialisis atau cuci darah,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa gagal ginjal akut masih memiliki kemungkinan pulih jika ditangani dengan cepat. Namun, pada kasus gagal ginjal kronis, pasien umumnya memerlukan terapi jangka panjang seperti hemodialisis atau transplantasi ginjal.

Untuk mencegah gangguan ginjal, Desiana menyarankan masyarakat menerapkan gaya hidup sehat, seperti membatasi konsumsi minuman manis, mengurangi makanan olahan, memperbanyak minum air putih, serta rutin berolahraga.

Ia juga menganjurkan pemeriksaan kesehatan secara berkala, setidaknya dua kali dalam setahun, meskipun tidak merasakan keluhan tertentu.

“Pemeriksaan laboratorium secara rutin penting agar kita dapat mengetahui kondisi kesehatan sejak dini dan mencegah kerusakan ginjal yang lebih berat,” katanya.

Melalui edukasi kesehatan seperti program Klinik Angkasa, Desiana berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan ginjal dengan pola hidup yang lebih sehat dan pemeriksaan medis yang teratur.

Rekomendasi Berita