Gedong Air Menanti Perhatian Publik
- 26 Jan 2026 05:26 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandarlampung – Di tengah pesatnya pembangunan Kota Bandarlampung, jejak sejarah masih berdiri, meski perlahan mulai terlupakan. Salah satunya adalah Benteng PDAM atau Gedung Air Gedong Air, bangunan bersejarah peninggalan kolonial Belanda yang berada di Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Gedong Air, Kecamatan Tanjung Karang Barat.
Bangunan ini merupakan reservoir penampungan air bersih yang dibangun pada masa Pemerintahan Kolonial Belanda, sekitar 1905–1908, dan terus difungsikan hingga awal tahun 1920-an. Air yang ditampung berasal dari wilayah Langkapura, kemudian dialirkan ke kantor-kantor pemerintahan serta rumah-rumah orang Belanda yang tinggal di Tanjungkarang kala itu.
Sayangnya, pada masa tersebut, masyarakat pribumi dari golongan biasa tidak ikut menikmati akses air bersih dari reservoir ini. Infrastruktur air hanya menjadi fasilitas eksklusif bagi pemerintah kolonial dan warga Eropa.
Seiring berjalannya waktu, banyak bangunan bersejarah di Kota Bandarlampung yang kondisinya kian memprihatinkan. Tidak sedikit yang terbengkalai, rusak, bahkan hilang, lalu digantikan bangunan modern atau deretan rumah toko. Gedung Air Gedong Air pun sempat mengalami nasib serupa.
Menurut Wisnu, pensiunan karyawan PDAM Way Rilau yang tinggal di kawasan tersebut sejak 1991, bangunan ini sempat lama tidak terawat. “Pintu-pintunya susah dibuka karena sudah sangat tua. Bahkan, ada saja cerita mistis. Saya pernah beberapa kali melihat penampakan seperti sosok yang berdiri atau berjalan di atas bangunan,” ujarnya.
Namun, harapan sempat muncul saat Edy Sutrisno menjabat sebagai Wali Kota Bandarlampung. Gedung tua ini kemudian dipugar dan diperuntukkan sebagai Museum Gedung Air. Bagian yang nyaris rusak diperbaiki, dinding dicat ulang, dan tampilannya dibuat lebih layak. Kini, bangunan tersebut terlihat lebih rapi dan menarik secara visual.
Di dalam Gedung Air, masih terdapat alat-alat pengatur distribusi air peninggalan Belanda. Alat ini berfungsi mengatur wilayah mana yang mendapat suplai air lebih dulu dan mana yang harus menunggu giliran. Selain itu, terdapat bak penampungan air berukuran besar yang ditutup dengan cor beton tebal dan kokoh. Akses menuju bagian atas bangunan pun tergolong sulit karena konstruksinya yang tertutup rapat.
Meski menyimpan nilai sejarah tinggi, hingga kini Gedung Air Gedong Air belum sepenuhnya terbuka untuk publik. Nila, salah satu warga setempat, mengaku belum pernah melihat bangunan tersebut difungsikan sebagai ruang publik. “Sejak saya tinggal di sini, saya tidak pernah melihat Gedung Air ini dibuka untuk umum,” katanya.
Bagi Gen Z, Gedung Air Gedong Air bukan cuma bangunan tua, tapi artefak nyata sejarah kota yang seharusnya dirawat dan dikenalkan kembali. Bukan sekadar untuk nostalgia, tetapi juga sebagai pengingat bahwa akses air bersih, kota, dan peradaban dibangun dari proses panjang
Kini, pertanyaannya bukan lagi soal mistis atau tua, tapi apakah warisan sejarah ini akan dijaga, atau kembali dilupakan?