djagHadg: Semesta Warna dan Gelap Terang Karya Daniel Kho di ArtSociates

  • 07 Mar 2026 10:22 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - ArtSociates menggelar pameran tunggal seniman Daniel Kho bertajuk “djagHadg” di ArtSociates Gallery Cafe, gedung Lawangwangi Creative Space, Jalan Dago Giri 99, Bandung, Jumat 6 Maret 2026. Daniel Kho merupakan seniman Indonesia kelahiran Klaten–Solo, Jawa Tengah, yang pernah berkarya dan menetap di Eropa.

Kini ia lebih banyak tinggal dan bekerja di Ubud, Bali. Dalam pameran ini, Daniel menghadirkan beragam medium, mulai dari karya dwimatra menggunakan cat akrilik dan serbuk marble di atas kanvas, cetak tinggi di atas serat daun, instalasi objek, hingga karya trimatra berbahan kayu.

Ia juga mengembangkan unsur tradisi seperti wayang kulit dan batik dalam praktik artistiknya. Bob Edrian, penulis catatan pengantar pameran, menjelaskan dalam katalog bahwa Daniel memilih tajuk djagHadg sebagai representasi semesta keunikan, keanehan, sekaligus kebebasan dalam mengalami situasi masa kini, masa lampau, dan masa yang akan datang.

Dalam karya-karyanya, Daniel menyoroti manusia dalam berbagai aspek yang saling tumpang tindih—bertolak belakang, bahkan saling menghancurkan. Kegelisahan tersebut ia tuangkan melalui permainan warna dan bentuk yang tampak menyenangkan di permukaan, namun menyimpan berbagai intrik.

Pada pembukaan pameran, Daniel Kho juga menampilkan performance art singkat berdurasi kurang dari satu menit. Ia membungkus jemari kaki kanannya dengan kantong plastik sebagai respons atas kondisi bumi—khususnya Bali—yang semakin dipenuhi sampah plastik.

“Manusia adalah makhluk yang paling goblok di bumi karena sifatnya yang suka merusak habitatnya sendiri, Bumi atau jagad ini harus kita pelihara dan jaga dengan baik. Sementara figur makhluk yang ada pada lukisan dan objek karya justru tidak brengsek," kata Daniel, saat pembukaan.

"Karya saya justru ada pada posisi damai, dan situasi perang saat ini menunjukkan puncak kegoblokan manusia,” imbuhnya.

Menurut Bob Edrian, dunia mimpi menjadi salah satu kunci untuk membuka semesta kreatif Daniel dalam djagHadg. Setiap karya tidak hanya merepresentasikan kebebasan sekaligus keterbatasan dalam mimpi, tetapi juga mengandung refleksi atas apa yang dialami dan dilakukan manusia.

Mimpi kemudian berkembang menjadi visi, dan akhirnya menjadi kenyataan—sebuah proses yang terjadi dalam siklus tanpa titik awal yang pasti.

Rangkaian karya dalam pameran ini berada dalam pusaran semesta warna dan bentuk yang khas dari Daniel Kho, yang menelaah berbagai pola perilaku manusia. Seolah terbang dari kejauhan, Daniel mengamati manusia, mendekatinya, menghancurkannya, lalu membentuk kembali figur-figur baru dalam dunia djagHadg.

“Objek atau figur yang ada pada karya adalah hasil eksperimentasi bentuk dan simbol dari berbagai budaya di bumi yang saya amati selama tiga puluh tahun. Ke depan memang akan memproduksi lebih banyak objek trimatra dengan material yang beragam. Ada yang dikembangkan dari lukisan atau sebaliknya,” beber Daniel.

Direktur ArtSociates, Andonowati, juga menyampaikan ketertarikannya pada karya Daniel Kho, khususnya pada karya objek atau trimatra berupa figur ekstra-hybrid terestrial yang juga banyak hadir dalam karya dwimatra.

“Saya tertarik pada karya Daniel Kho pada bentuk dan warna yang dipilihnya, terutama karya objek seperti mainan yang sangat menarik dan unik,” ujar Andonowati di ArtSociates Gallery Cafe, Bandung.

Pameran “djagHadg” menghadirkan semesta visual yang memadukan keindahan warna dengan kedalaman gagasan, sekaligus menjadi refleksi kritis atas perilaku manusia terhadap bumi dan kehidupannya sendiri.

Rekomendasi Berita