Skeptisisme antara Hijab dan Non Hijab dalam Kehidupan Sosial

  • 12 Mar 2026 10:06 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin beragam, pilihan berpakaian sering kali menjadi bahan penilaian sosial. Perempuan yang mengenakan hijab maupun yang tidak mengenakannya terkadang menghadapi pandangan skeptis dari lingkungan sekitarnya.

Sebagian masyarakat memandang hijab sebagai simbol religiusitas dan identitas keislaman. Dalam kajian akademik disebutkan bahwa hijab tidak hanya dipahami sebagai kewajiban agama, tetapi juga sebagai identitas perempuan Muslim dalam ruang sosial. Menurut Rethinking Muslim Women and the Veil karya Katherine Bullock, hijab dipahami sebagai “simbol identitas keagamaan sekaligus bentuk representasi perempuan Muslim dalam masyarakat modern.”

Namun di sisi lain, perempuan yang tidak mengenakan hijab sering kali menghadapi penilaian yang dianggap kurang adil. Banyak orang secara otomatis mengaitkan penampilan luar dengan tingkat keimanan seseorang, padahal nilai moral dan kepribadian tidak selalu tercermin dari cara berpakaian.

Dalam buku A Quiet Revolution: The Veil’s Resurgence from the Middle East to America, Leila Ahmed menjelaskan bahwa praktik berhijab maupun tidak berhijab sering dipengaruhi oleh konteks sosial, budaya, dan pengalaman pribadi perempuan.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pakaian sering dijadikan dasar pembentukan stereotip sosial. Penelitian dalam jurnal Al-Jami’ah: Journal of Islamic Studies menyebutkan bahwa hijab sering menjadi bagian dari representasi identitas dan citra perempuan Muslim di ruang publik, sekaligus dipengaruhi oleh dinamika budaya dan modernitas.

Sementara itu, bagi sebagian perempuan, hijab juga dapat menjadi bentuk ekspresi diri dan kepercayaan diri. Dalam penelitian yang dipublikasikan di Journal of Muslim Minority Affairs, hijab dijelaskan sebagai “praktik yang tidak hanya memiliki dimensi religius, tetapi juga dimensi identitas, ekspresi diri, dan posisi sosial perempuan Muslim di masyarakat.”

Perbedaan pilihan ini seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling menilai atau merendahkan. Kehidupan sosial yang sehat justru terbentuk ketika masyarakat mampu melihat seseorang dari sikap, perilaku, dan nilai kemanusiaannya, bukan semata dari tampilan luar.

Pada akhirnya, sikap skeptis antara hijab dan non hijab seharusnya dapat digantikan dengan sikap saling menghargai. Pemahaman yang lebih terbuka dapat membantu masyarakat melihat bahwa pilihan berpakaian adalah bagian dari perjalanan pribadi setiap individu dalam menjalani kehidupan dan keyakinannya.

Rekomendasi Berita