Gerhana Bulan, ITB Bahas Sains, Teknologi, Cerita Rakyat

  • 07 Mar 2026 20:48 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Di tengah suasana khidmat bulan Ramadan, fenomena alam menakjubkan menyapa langit Indonesia. Pada Selasa malam di awal Maret 2026 ini, Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Observatorium Bosscha menyelenggarakan pengamatan virtual bertajuk "Pengamatan Virtual Langit Malam (PVLM): Gerhana Bulan Total".

Acara yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube resmi Observatorium Bosscha ini dipandu oleh dua staf edukator, Dimas Gilang Ramadan (Dimas) dan Fatimah Zahra (Zea). Meskipun kondisi cuaca di Lembang sempat berawan, tim berhasil menangkap momen-momen krusial saat Bulan memasuki bayangan Bumi.

Sains di Balik "Bulan Darah"

Dalam sesi edukasi, Dimas menjelaskan bahwa Gerhana Bulan Total (GBT) terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada pada satu garis lurus (kesegarisan). Fenomena ini menyebabkan Bulan masuk ke dalam bayangan Umbra Bumi.

Salah satu daya tarik utama GBT adalah warna Bulan yang berubah menjadi kemerahan, yang sering dijuluki sebagai Blood Moon.

"Warna merah ini terjadi karena atmosfer Bumi menghamburkan cahaya biru. Dan itu hanya menyisakan cahaya merah untuk diteruskan hingga jatuh ke permukaan Bulan," ujar Dimas, Sabtu 7 Maret 2026.

Warna merah ini juga diukur menggunakan Skala Danjon. Yaitu saat kondisi atmosfer Bumi (seperti polusi atau debu vulkanik) sangat memengaruhi seberapa gelap atau terangnya warna merah yang tampak.

Teknologi dan Sejarah di Lembang

Sebagai lembaga sains tertua di Indonesia yang kini berusia lebih dari satu abad, Observatorium Bosscha menggunakan perangkat modern untuk menyajikan citra terbaik kepada publik. Pengamatan kali ini mengandalkan Teleskop Refraktor: Lensa berdiameter 6,15 cm, Kamera: DSLR dan kamera panorama untuk memantau kondisi cuaca di ufuk timur, dan Kontribusi Global: Data citra dari Bosscha juga dikirimkan ke jaringan Slooh Observatory sebagai bagian dari kolaborasi astronomi internasional.

Perspektif Budaya dan Pesan Perdamaian

Tidak hanya sisi sains, PVLM kali ini juga mengangkat sisi humaniora melalui cerita rakyat. Mulai dari mitos Batarakala di Jawa dan Bali yang dipercaya "memakan" Bulan, hingga tradisi suku Batamariba di Afrika yang memandang gerhana sebagai momentum untuk berdamai dan menyelesaikan konflik antar manusia. Momentum ini sangat relevan karena bertepatan dengan bulan Ramadan dan berdekatan dengan hari raya keagamaan lainnya di Indonesia. Pengamatan ini ditutup dengan pesan toleransi, mengajak masyarakat untuk bersatu di bawah langit yang sama.

Catatan Astronomi Masa Depan

Bagi masyarakat yang melewatkan fenomena ini, Observatorium Bosscha mengingatkan bahwa GBT kali ini adalah satu-satunya yang dapat diamati di Indonesia pada tahun 2026. Fenomena serupa baru akan kembali menyapa Indonesia pada 31 Desember 2028.

ITB terus berkomitmen untuk menghadirkan sains yang inklusif bagi masyarakat. Untuk memantau fenomena langit lainnya, publik dapat mengakses Kalender Astronomi 2026 melalui situs resmi bosscha.itb.ac.id.

Rekomendasi Berita