Inovasi Penangkap Karbon, Kemajuan Industri Kereta Api Nasional

  • 13 Mar 2026 20:00 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) menggagas inovasi penangkap karbon yang berpotensi mendukung transformasi industri kereta api nasional menuju transportasi rendah emisi. Gagasan tersebut membawa tim Ganeshasengumi meraih Juara 1 dalam ajang KAI Ideation Challenge, kompetisi business case yang diselenggarakan PT Kereta Api Indonesia (Persero) bekerja sama dengan Marketeers di KAI Jakarta Railway Centre (JRC).

Tim ini terdiri atas Roihan M. Iqbal (Teknik Material), Muhamad Tauhid (Teknik Mesin), dan Ilham Hakim (Magister Studi Pembangunan). Mereka mengusulkan konsep carbon capture pada sistem perkeretaapian sebagai langkah inovatif untuk mendukung dekarbonisasi sektor transportasi di Indonesia.

Tim mahasiswa ITB ini memulai prosesnya dengan memahami konteks besar yang dihadapi industri perkeretaapian. Mereka menelaah posisi KAI sebagai BUMN, arah kebijakan transportasi nasional, hingga agenda global seperti Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Analisis tersebut dilakukan menggunakan kerangka PESTEL untuk memetakan berbagai faktor yang memengaruhi industri, mulai dari aspek politik, ekonomi, sosial, teknologi, lingkungan, hingga regulasi.

Dari proses tersebut, lahirlah gagasan inovasi yang terinspirasi dari praktik carbon capture yang telah diterapkan di sektor energi dan industri berat. Pendekatan ini kemudian diterjemahkan ke dalam konteks perkeretaapian. Bagi tim ini, teknologi penangkapan karbon tidak sekadar simbol komitmen lingkungan, tetapi dapat menjadi intervensi teknis yang memperkuat peran kereta api sebagai moda transportasi rendah emisi.

“Kunci kompetisi ini bukan siapa yang idenya paling ‘wah’. Tetapi siapa yang idenya paling tepat sasaran dan berani dibawa sampai tuntas,” ujar Roihan M. Iqbal, Jumat 13 Maret 2026.

Menurutnya, banyak gagasan inovatif berhenti pada level konsep. Tantangannya adalah menunjukkan bahwa ide tersebut memiliki urgensi dan relevansi bagi institusi sebesar KAI.

Selama proses persiapan, tim melakukan berbagai diskusi lintas disiplin secara intensif. Mereka juga melakukan riset mandiri mengenai tren emisi sektor transportasi, strategi dekarbonisasi global, serta praktik serupa yang telah dilakukan di sektor industri lainnya.

Menjelang tahap final yang digelar di KAI Jakarta Railway Centre pada beberapa waktu lalu, fokus tim beralih pada penyusunan narasi dan alur presentasi agar gagasan yang cukup teknis dapat dipahami secara jelas oleh dewan juri.

“Tantangan terbesarnya adalah menjaga keseimbangan. Yaitu antara keberanian ide dan ketersediaan konteks,” kata Roihan.

Ia menilai gagasan carbon capture dalam sistem kereta api berpotensi dianggap terlalu ambisius jika tidak diposisikan secara tepat. Oleh karena itu, tim memperkuat argumen dengan data kebijakan, urgensi pengurangan emisi, serta arah transisi energi global.

Rekomendasi Berita