SITH ITB Gelar Kuliah Umum Internasional “From Biomass to Bioproduct”

  • 15 Mar 2026 11:50 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Jatinangor - Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Kelompok Keahlian Agroteknologi dan Teknologi Bioproduk (KK ATB), Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH), menyelenggarakan kuliah umum internasional bertajuk “From Biomass to Bioproduct” pada Kamis 12 Maret 2026 lalu, di Ruang Seminar Labtek IA, Kampus ITB Jatinangor.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian LPDP WCU ITB Equity Program – Adjunct Professor and Joint Supervision Program yang berlangsung pada 5–16 Maret 2026 dan didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan dan Direktorat Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Program tersebut menghadirkan dua pakar terkemuka dari Belanda, yakni Prof. dr. ir. H.J. (Erik) Heeres, Profesor Teknik Kimia dari University of Groningen, serta Prof. dr. ir. René H. Wijffels, Profesor Bioproses dari Wageningen University & Research.

Selain kuliah umum, program ini juga mencakup berbagai kegiatan akademik lainnya seperti Master Class bertajuk “Catalysis for Engineers”, focus group discussion (FGD), kuliah tamu serta ekskursi yang bertujuan memperkuat kolaborasi riset dan pertukaran pengetahuan antara peneliti internasional dan sivitas akademika ITB.

Dalam kuliah umum tersebut, Prof. Erik Heeres memaparkan perkembangan terbaru dalam teknologi konversi biomassa menjadi bahan kimia bernilai tinggi.

Ia menjelaskan bahwa dunia saat ini tengah bergerak menuju bio-based economy, yaitu sistem ekonomi yang memanfaatkan sumber daya hayati terbarukan sebagai alternatif pengganti bahan baku berbasis fosil. "Konsep biorefinery menjadi kunci dalam pemanfaatan biomassa secara efisien,"ujarnya dalam rilis yang diterima RRI Minggu 15 Maret 2026.

Dalam sistem ini, biomassa dapat diolah menjadi berbagai produk sekaligus, mulai dari bahan pangan, pakan, material, hingga energi dan bahan kimia. Prof. Heeres juga menyoroti teknologi pirolysis katalitik yang mampu mengonversi biomassa menjadi senyawa aromatik penting seperti benzena, toluena, dan xilena, yang merupakan bahan dasar berbagai industri kimia dan plastik global.

Teknologi ini dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung produksi bahan kimia ramah lingkungan di masa depan. Sementara itu, Prof. René Wijffels memaparkan perspektif bioteknologi industri dalam pengembangan bioproduk, khususnya melalui pemanfaatan mikroalga. Ia menjelaskan bahwa mikroalga memiliki potensi besar sebagai sumber bahan baku berkelanjutan untuk menghasilkan berbagai produk seperti protein, lipid, hingga senyawa bernilai tinggi seperti asam lemak omega-3 (EPA dan DHA).

Menurutnya, teknologi bioproses modern kini memungkinkan produksi senyawa bioaktif dari mikroorganisme dengan efisiensi yang semakin tinggi. Namun, tantangan utama yang masih dihadapi adalah bagaimana merancang proses yang skalabel, efisien secara ekonomi, dan mampu menjembatani riset dasar menuju aplikasi industri.

Ia juga menekankan pentingnya pendekatan integratif dalam biorefinery berbasis mikroalga, yang memungkinkan pemanfaatan seluruh komponen biomassa untuk menghasilkan berbagai produk secara simultan, mulai dari lipid, protein, hingga pigmen bernilai tinggi.

Kuliah umum ini diharapkan dapat menjadi wadah diskusi ilmiah bagi mahasiswa, peneliti, dan akademisi untuk memahami perkembangan terkini dalam bidang bioteknologi industri, teknologi biomassa, serta pengembangan bioproduk berkelanjutan.

Rangkaian Adjunct Professor and Joint Supervision Program yang berlangsung selama hampir dua pekan ini juga merupakan bagian dari upaya strategis ITB dalam memperkuat kolaborasi akademik internasional, meningkatkan kualitas riset, serta memperluas jejaring global dengan institusi mitra terkemuka.

Melalui interaksi langsung dengan pakar internasional, kegiatan ini diharapkan dapat mendorong pengembangan penelitian bersama, peningkatan kualitas publikasi ilmiah, serta pertukaran pengetahuan lintas institusi sebagai bagian dari langkah ITB dalam memperkuat reputasi akademik global dan mendukung target peningkatan peringkat universitas dalam pemeringkatan internasional seperti QS World University Rankings.

Rekomendasi Berita