Makna “Ulah Getas Harupateun” dalam Budaya Sunda

  • 21 Jan 2026 13:00 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Meuleum Harupat adalah salah satu Tradisi yang masih dilakukan dalam rangkayan Sawer Panganten Adat Sunda. Harupat yang memiliki sifat mudah terbakar dan mudah patah menjadi simbol dalam pepatah “Ulah Getas Harupateun”.

Harupat adalah lidi yang berasal dari pohon Enau atau Aren, lidi ini memiliki karakter yang mudah dipatahkan, mudah terbakar. Hal ini menarik para sesepuh terdahulu yang menjadikan Harupat digunakan, dan menjadi simbol yang mendalam untuk dipahami oleh pengantin.

“Ulah Getas Harupateun” memiliki makna dan arti bahwa simbol agar pengantin jangan mudah patah atau menyerah dan jangan mudah terbakar emosi. Disimbolkan Harupat yang memang mudah patah dan mudah terbakar.

Dalam acara Meuleum Harupat, batang lidi mulanya dibakar oleh mempelai laki-laki hingga ujungnya menyala. Setelah ujungnya terbakar dan mengeluarkan asap, mempelai wanita harus mencelupkannya ke dalam kendi kecil yang sudah diisi air.

Selanjutnya, batang lidi juga dipatahkan di bagian tengah oleh mempelai perempuan.

Saat membakar, mencelupkan dan memotong batang lidi, keduanya berdoa dan berharap agar lidi tersebut bisa patah.

Lidi yang dibakar melambangkan emosi, dan pencelupan ke dalam air digambarkan sebagai upaya untuk mendinginkan amarah. Biasanya ini dilakukan oleh sang istri kala suaminya emosi, namun bisa juga sebaliknya.

Dalam prosesi tersebut turut dibacakan nasihat-nasihat pernikahan oleh sesepuh maupun tokoh yang mendampingi pelaksanaan acara. Ini merupakan cara nenek moyang zaman dulu untuk membangun rumah tangga yang saling memahami dan tidak mengedepankan ego masing-masing.

Dalam Meuleum Harupat dapat juga digambarkan sebagai simbol kasih sayang dari kedua belah pengantin.Di sini ada upaya saling mengayomi, saling mendinginkan ketika emosi dan mengerti satu sama lain agar kondisinya bisa kembali seperti semula.

Rekomendasi Berita