Baladuman, Permainan Tradisional Banjar saat Ramadan

  • 08 Mar 2026 12:57 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.Co.Id, Banjarmasin - Salah satu permainan tradisional masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan yang dulu populer saat Ramadan adalah Baladuman. Sayangnya permainan itu saat ini sudah jarang dimainkan sehingga dianggap hampir punah. Hal tersebut disampaikan oleh Erwin, Neza dan Syauqani dalam acara Pandiran Baisukan di RRI Pro4 Banjarmasin, 7 Februari 2026.

Cukup lama tergabung dalam Komunitas Palalah, Erwin mengatakan bahwa jika sebagian orang menyebut 'baladuman' sebagai permainan. Namun ada juga yang mengatakan 'baladuman' adalah tradisi karena 'baladuman' hanya dimainkan saat bulan Ramadan saja.

"Namanya 'baladuman' sebab bambu yang dinyalakan menghasilkan bunyi 'duuumm', dan orang Banjar menyebutnya meladum. Tapi bahaya juga kalau masih amatir atau yang belum pernah, jadi jangan coba-coba main sendiri," ujar Erwin

Sementara itu Syauqani juga menyebutkan jika baladuman adalah permainan yang biasa ada setiap bulan Ramadan, baik waktu sore maupun malam setelah ibadah Tarawih. Dengan panjang sekitar 1 - 2 meter, bambu berdiameter 10–15 cm lalu dilubangi bagian tengahnya sebagai pemicu api. Menggunakan minyak tanah atau karbit agar menghasilkan ledakan yang menimbulkan suara keras.

"Dulu sering dilakukan warga di pinggir sungai, atau di tempat yang jauh dari pemukiman. Setelah tahun 90-an sudah mulai berkurang, khususnya di daerah-daerah yang penerusnya tidak ada lagi," jelas Syauqani

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

Neza, sebagai pemuda yang pernah menjadi bagian dari permainan Baladuman di daerah Hulu Sungai, ia mengungkapkan jika permainan tersebut sudah sulit dijumpai. Sulitnya mencari bambu, batang kelapa ataupun batang aren sebagai bahan membuat permainan dinilai menjadi salah satu faktor semakin terkikisnya permainan baladuman. Selain menghadirkan suasana kebersamaan di tengah masyarakat. Baladuman dikenal sebagai permainan yang mengandalkan ketangkasan dan kekompakan atau kerjasama.

"Baladuman adalah cara sederhana untuk mempererat pertemanan di lingkungan sekitar. Bukan sekadar permainan, tapi juga bagian dari kenangan masa kecil saat Ramadan," ucap Neza

Ia berharap permainan tradisional tersebut bisa kembali dilestarikan sebagai bagian dari budaya kebersamaan masyarakat. Jika dikelola dengan tepat bisa menjadi ajang festival dan wisata.

Rekomendasi Berita