Dirijen, Penyatu Rasa dan Bunyi dalam Harmoni Musik

  • 04 Mar 2026 10:11 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Poin utama menjadi seorang dirijen adalah kemampuan telinga untuk “mendengarkan rasa”. Hal itu dikemukakan H. Sabransyah, M.Pd, jebolan Akademi Musik Indonesia, dalam Pandiran Baisukan Pro 4 RRI Banjarmasin, Rabu 4 Februari 2026.

Pandiran Baisukan bersama Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI) Kalsel. Sesuai Topik “Menjadi Seorang Dirijen” obrolnya fokus mengenai bagaimana proses dan kompetensi menjadi seorang dirijen..

Menurut Sabran, dirijen bukan sekadar pengatur tempo. Seorang dirijen adalah sosok yang mampu merasakan, memahami, dan menyatukan karakter setiap bunyi menjadi satu kesatuan harmoni.

“Dirijen itu seperti guru mengaji yang paham segalanya. Ia harus tahu kapan suara tinggi, kapan rendah, kapan lembut, dan kapan harus ditegaskan,” ujarnya.

Sabran menjelaskan, seorang dirijen wajib memahami not balok, membaca partitur seluruh instrumen, serta mengenal karakter berbagai jenis alat musik. Tanpa pemahaman menyeluruh, sulit menghadirkan komposisi yang rapi dan megah.

"Dirijen adalah motor penggerak yang memastikan setiap pemain berada dalam satu irama yang sama melalui isyarat tangan dan ekspresi yang presisi" katanya.

Di akhir siaran, Sabran mengajak masyarakat menyadari bahwa dirijen bukan sekadar pengatur tempo. Dirjen adalah pemimpin artistik yang menyatukan rasa dan arah sebuah pertunjukan.

Untuk itu diharapkan, materi akan dilanjutkan dengan pembahasan yang lebih mendalam. Mulai dari teknik dasar memimpin, pola kepemimpinan musikal, hingga praktik membaca partitur secara lebih detail.

Rekomendasi Berita