Literasi Indonesia Meningkat, Tapi Masih Tertinggal
- 04 Mar 2026 15:03 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Serang - Kantor Bahasa Provinsi Banten menyoroti kondisi literasi nasional yang masih memerlukan perhatian serius. Widyabasa Ahli Pertama Kantor Bahasa Provinsi Banten, Tsalaisye Nur Fajjriyah menyebutkan, meskipun tren literasi meningkat dalam beberapa tahun terakhir, capaian Indonesia masih tertinggal dibanding negara lain.
“Secara statistik ada peningkatan sejak 2022 hingga 2025, tetapi jika merujuk skor PISA, posisi kita masih di bawah rata-rata dunia dan negara tetangga,” ujarnya saat berbicang bersama Programa 1 RRI Banten, Rabu, 04 Maret 2026.
Ia menegaskan, peningkatan melek huruf belum sepenuhnya diiringi kemampuan memahami bacaan secara mendalam. Menurutnya, tantangan literasi saat ini bukan lagi sekadar kemampuan membaca dan menulis dasar, melainkan bagaimana masyarakat mampu berpikir kritis, menganalisis informasi, serta memilah kebenaran di tengah derasnya arus informasi digital.
Kemampuan memahami konteks dan menarik kesimpulan dinilai masih perlu diperkuat, terutama di kalangan pelajar. Salah satu faktor penyebab adalah kebiasaan membaca yang belum terbentuk kuat. Selain itu, akses buku belum merata, terutama di wilayah pelosok.
“Di beberapa sekolah dasar yang kami kunjungi, bahkan belum memiliki perpustakaan. Kalau pun ada, isinya didominasi buku pelajaran,” ujarnya.
Kondisi ini membuat anak-anak kurang terekspos pada bacaan fiksi maupun nonfiksi yang beragam. Untuk mengatasi hal itu, Kantor Bahasa Provinsi Banten menjalankan sejumlah program literasi.
Di tingkat SD, ada bimbingan teknis cerdas mengulas buku. Siswa diajak menceritakan kembali isi bacaan dan memberi penilaian terhadap buku yang dibaca.
“Kami ingin anak-anak tidak sekadar membaca, tetapi memahami dan berani menyampaikan pendapat,” ujarnya.
Di jenjang SMP dan SMA, program ditingkatkan menjadi pelatihan membaca cepat dan membaca kritis. Sementara bagi usia 18–30 tahun, digelar lokakarya penulisan esai guna melatih kemampuan argumentasi dan ekspresi gagasan.
Menurutnya, literasi adalah proses panjang yang harus dibangun bertahap dan konsisten. Ia berharap kolaborasi dengan komunitas literasi terus diperkuat agar gerakan membaca semakin masif.
“Literasi bukan hanya tugas sekolah atau pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama, termasuk keluarga dan masyarakat,” ujarnya.