Pandeglang Krisis Tenaga Psikolog
- 03 Feb 2026 16:13 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Pandeglang - Upaya penanganan kesehatan mental di Kabupaten Pandeglang masih terganjal oleh keterbatasan tenaga ahli, khususnya psikolog klinis di tingkat Puskesmas. Hingga awal tahun 2026, layanan poli jiwa di Puskesmas hanya diawasi oleh dokter umum, perawat, atau bidan sebagai penanggung jawab program. Kondisi ini membuat penanganan kasus depresi dan kecemasan belum dapat dilakukan secara spesifik oleh ahli kejiwaan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Penanggung Jawab Program Kesehatan Jiwa pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pandeglang, Pauzi Ramzih mengatakan, masyarakat yang membutuhkan layanan psikolog klinis atau psikiater terpaksa harus dirujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas lebih lengkap. Saat ini, rujukan utama di Kabupaten Pandeglang hanya terbatas pada RSUD Berkah, RSUD Malingping, dan Rumah Sakit Labuan. Keterbatasan sebaran rumah sakit yang memiliki poli jiwa ini, menurutnya menjadi tantangan tersendiri bagi warga yang tinggal di wilayah pelosok atau jauh dari pusat kota.
Baca juga: Dinkes Pandeglang Catat 436 Kasus Depresi Sepanjang 2025
"Fasilitas penunjang di Puskesmas sementara ini ada obat-obatan, dokter umum, dan perawat. Untuk psikolog klinis belum ada. Biasanya dirujuk ke rumah sakit seperti RSUD Berkah, RSUD Malingping, atau RS Labuan." Kata Pauzi, Selasa 3 Februari 2026.
Pauzi mengakui, keberadaan psikolog klinis sangat dibutuhkan untuk melakukan tata laksana konseling yang lebih mendalam. Saat ini, Puskesmas hanya mampu melakukan skrining awal, pemeriksaan mental dasar, serta pemberian obat-obatan terbatas. Adapun pasien dengan gejala depresi berat atau skizofrenia yang memerlukan penanganan khusus.
Ketidakhadiran psikolog di Puskesmas juga dinilai berdampak pada kualitas edukasi kesehatan jiwa yang diberikan kepada masyarakat umum. Padahal, menurutnya penanganan ODMK atau orang yang baru mengalami gejala kecemasan (anxiety) sangat membutuhkan pendekatan konseling rutin dibandingkan sekadar pengobatan kimiawi.
Baca juga: Cegah Depresi Gen Z, Dinkes Pandeglang Sasar Sekolah
"Upaya promotif dan preventif menjadi kurang maksimal akibat beban kerja nakes yang merangkap sebagai pemegang program jiwa. Tingkat kesadaran masyarakat di Pandeglang memang masih belum tinggi. Kita perhatikan di Tangerang mereka sadar, di kita jarang yang datang ke Puskesmas karena merasa depresi," ujarnya.
Dinkes Pandeglang terus berupaya untuk menyiasati kekurangan ini dengan menjadwalkan hari-hari khusus layanan poli jiwa di beberapa Puskesmas. Namun, Pauzi mengakui jadwal yang tidak tersedia setiap hari sering kali membuat warga ragu untuk datang berkonsultasi mengenai kesehatan mental mereka. Kondisi ini diperparah dengan stigma negatif di masyarakat yang masih menyamakan gangguan perasaan ringan dengan "gila".