Mi Kuning dan Teri Nasi di Pasar Rau Mengandung Formalin

  • 03 Mar 2026 11:50 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang - Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Serang menemukan tiga sampel bahan pangan mengandung zat berbahaya saat melakukan pengawasan di Pasar Induk Rau, Kota Serang, Selasa, 3 Maret 2026.

Pengawasan dilakukan bersama Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian provinsi dan kota, serta unsur kepolisian selama Ramadan. Sebanyak 33 sampel diambil dari sejumlah pedagang untuk diuji cepat di lokasi.

Kepala BBPOM di Serang, Fauzi Ferdiansyah, menyebutkan tiga sampel dinyatakan positif. “Mi kuning, teri nasi mengandung formalin. Satu lagi kerupuk melarat mengandung Rhodamin B,” ujarnya.

Ia menjelaskan formalin dan Rhodamin B tidak boleh digunakan pada pangan. Rhodamin B merupakan pewarna tekstil yang kerap disalahgunakan untuk menghasilkan warna cerah pada makanan.

“Bahan-bahan ini berbahaya bagi kesehatan. Tidak ada toleransi penggunaannya dalam produk pangan,” katanya.

Sampel lain seperti cumi asin, bakso, tahu, cincau, jajanan anak, hingga sayuran seperti bawang merah, bawang putih, seledri, stroberi, dan tomat dinyatakan negatif. Daging, usus, dan beras yang turut diuji juga tidak ditemukan kandungan berbahaya.

Fauzi menambahkan, hasil tahun ini menunjukkan perbaikan dibandingkan pengawasan sebelumnya. Tahun lalu, masih ditemukan cincau yang positif mengandung bahan berbahaya. Setelah dilakukan pembinaan kepada pedagang dan produsen, pada pemeriksaan kali ini seluruh sampel cincau dinyatakan negatif.

“Untuk cincau tahun lalu masih ada yang positif. Sekarang sudah negatif. Artinya ada perbaikan,” ucapnya.

Ia menyebut dampak konsumsi bahan berbahaya bisa terjadi dalam waktu singkat maupun jangka panjang.

“Efek langsung bisa alergi, ruam, gangguan pencernaan. Kalau terus-menerus masuk ke tubuh dan terakumulasi, bisa merusak hati, ginjal, bahkan memicu kanker,” katanya.

Terkait temuan tersebut, pedagang diminta menghentikan penjualan produk yang terindikasi berbahaya.

“Kami minta tidak dijual lagi. Jika tidak ditarik, akan kami amankan. Kami juga telusuri sumber produksinya supaya dihentikan dari asalnya,” ujar Fauzi.

Ia mengingatkan masyarakat agar lebih cermat memilih bahan pangan untuk sahur dan berbuka.

“Perhatikan warna yang terlalu mencolok atau kondisi yang tidak wajar. Jangan sampai makanan yang dikonsumsi justru berdampak buruk bagi kesehatan,” ucapnya.

Rekomendasi Berita