Masjid Ar-Rohim, Jejak Islam yang Tenggelam di Waduk Karian

  • 09 Mar 2026 10:45 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Lebak - Tak banyak masyarakat Kabupaten Lebak yang mengenal Masjid Ar-Rohim di Kampung Susukan, Desa Bungurmekar, Kecamatan Sajira. Padahal, masjid ini diyakini sebagai salah satu masjid tertua di wilayah tersebut dan menjadi saksi perjalanan panjang penyebaran Islam di daerah yang dikenal sebagai Bumi Multatuli.

Masjid Ar-Rohim dibangun pada tahun 1579 Masehi pada masa Kesultanan Banten. Keberadaannya tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pertahanan pasukan Kesultanan Banten di kawasan pedalaman Lebak.

Lokasinya berada di tepi Sungai Ciberang, jalur transportasi penting pada masa lalu. Sungai tersebut menjadi jalur perdagangan dan mobilitas masyarakat, sehingga kawasan ini dinilai strategis untuk mendirikan pusat pertahanan sekaligus pusat penyebaran agama Islam.

Bangunan masjid awalnya berukuran sekitar 14 x 14 meter. Sejak didirikan lebih dari empat abad lalu, masjid ini tercatat telah mengalami lima kali pemugaran guna mempertahankan keberadaannya sebagai tempat ibadah masyarakat setempat.

Pada masa lalu, untuk mencapai masjid ini dari Kota Rangkasbitung dibutuhkan waktu sekitar 30 menit perjalanan melalui Jalan Rangkasbitung–Cipanas. Dari jalan utama tersebut, perjalanan dilanjutkan melalui jalan desa Bungurmekar dan menyeberangi jembatan gantung di atas Sungai Ciberang.

Namun akses menuju masjid sempat terputus setelah jembatan tersebut hanyut akibat banjir bandang yang melanda wilayah Lebak pada 1 Januari 2020. Peristiwa itu menjadi salah satu bencana besar yang pernah menimpa kawasan tersebut.

Meski diterjang banjir bandang, bangunan masjid yang dicat putih itu tidak mengalami kerusakan pada struktur utamanya. Hanya beberapa sarana pendukung di sekitar masjid yang hanyut terbawa arus deras sungai.

Bangunan dua lantai tersebut bahkan dapat terlihat dari jarak lebih dari 100 meter karena posisinya yang cukup strategis. Pada masanya, Masjid Ar-Rohim juga dikenal sebagai salah satu objek wisata religi di Kabupaten Lebak.

Tokoh agama Kampung Susukan, Dudi Rusdi, mengatakan banyak jejak sejarah tentang pendirian masjid yang kini telah hilang. Tidak adanya arsip tertulis membuat kisah pembangunan masjid lebih banyak diwariskan melalui cerita turun-temurun. “Jejak sejarah tentang pendirian masjid ini sudah banyak yang hilang. Di lokasi juga tidak ada arsip yang bisa menjelaskan bagaimana masjid ini pertama kali didirikan,” kata Dudi, Senin, 9 Maret 2026.

Meski begitu, masyarakat setempat meyakini bahwa masjid tersebut merupakan peninggalan Kesultanan Banten. Berdasarkan cerita yang diwariskan secara lisan, masjid awalnya dibangun sangat sederhana hanya dalam waktu semalam.

Bangunan awal masjid terbuat dari kayu dengan atap rumbia dan hanya ditopang empat tiang utama. “Dulu hanya ada empat tiang kayu yang menopang atap rumbia. Itu bentuk awal masjid ini, sangat sederhana,” ujar Dudi.

Empat tiang tersebut hingga kini tetap dipertahankan sebagai simbol sejarah. Meski kini telah diganti dengan tiang beton untuk menopang bangunan yang lebih kokoh, pondasi awalnya diyakini masih berada di bawah bangunan tersebut.

Di bawah keempat tiang beton itu terdapat batu karang yang menjadi pondasi awal pembangunan masjid pada tahun 1579. Namun batu tersebut kini tidak lagi terlihat karena tertutup oleh konstruksi bangunan yang telah beberapa kali diperbaiki.

Salah satu peninggalan yang masih tersisa dari masa lalu hanyalah kobakan atau sumur yang dulu digunakan masyarakat dan pasukan Kesultanan Banten untuk berwudu sebelum melaksanakan salat.

Seiring pembangunan Bendungan Karian, keberadaan Masjid Ar-Rohim akhirnya harus dikorbankan. Bangunan bersejarah yang berada di tepi Sungai Ciberang itu ditenggelamkan bersama kawasan yang kini menjadi Waduk Karian.

Menurut Dudi, beberapa orang bahkan pernah menyelam ke dasar waduk karena penasaran dengan kondisi masjid tersebut. “Ada yang pernah menyelam ke dasar waduk dan mereka bilang bangunan masjid itu masih utuh seperti dulu,” ujarnya.

Sebagai pengganti masjid lama, pemerintah melalui pihak ketiga membangun masjid baru sekitar empat tahun lalu di kawasan relokasi warga yang kini dikenal sebagai Kampung Susukan Baru, Desa Bungurmekar.

Masjid baru itu tetap menggunakan nama Masjid Ar-Rahim dengan ukuran bangunan sekitar 15 x 20 meter. Pengurus masjid, Wahyudin, mengatakan aktivitas ibadah di masjid tersebut tetap berjalan aktif. “Masjid ini tidak pernah sepi jamaah setiap waktu salat fardu tiba. Selain ibadah, di sini juga sering digunakan untuk musyawarah warga dan kegiatan kampung,” ujarnya.

Meski demikian, sebagian warga menyayangkan bentuk masjid pengganti yang tidak lagi mencerminkan ciri khas bangunan lama. Yosep, warga Rangkasbitung yang dulu sering beribadah di masjid tersebut, mengatakan, “Seharusnya masjid pengganti ini masih mempertahankan bentuk atau ciri khas masjid lama, supaya sejarahnya tetap terasa,” katanya.

Kini, meski bangunan lamanya berada di dasar Waduk Karian, nama Masjid Ar-Rohim tetap hidup sebagai simbol kejayaan peradaban Islam di Lebak sejak masa pemerintahan Sultan Hasanuddin pada abad ke-16.

Rekomendasi Berita