Ahli Siber Peringatkan Risiko Implementasi AI Terlalu Cepat di Industri Teknolog

  • 13 Mar 2026 09:22 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam = Diskusi mengenai risiko penerapan kecerdasan buatan kembali mencuat setelah laporan bahwa Amazon mengadakan pertemuan internal untuk membahas gangguan sistem yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Menurut laporan yang dikutip oleh Fortune dari Financial Times, pertemuan tersebut membahas sejumlah insiden teknis yang berdampak luas pada layanan perusahaan, termasuk yang berkaitan dengan penggunaan fitur pengkodean berbasis AI.

Konsultan keamanan siber Lukasz Olejnik dari King's College London menilai penggunaan AI dalam pengembangan perangkat lunak memang dapat mempercepat proses pembuatan kode, namun tetap memiliki risiko jika diterapkan tanpa pengawasan yang cukup.

Ia menjelaskan bahwa asisten AI seperti alat internal pengkodean dapat menghasilkan lebih banyak kode dalam waktu singkat, tetapi sistem pengawasan, pemeriksaan, dan penerapan kode bisa saja tidak berkembang secepat teknologi tersebut.

“Saya tidak sedang berargumen menentang penerapan AI. Tidak ada. Itu tidak bisa dihentikan. Semua orang akan menerapkan AI,” kata Olejnik kepada Fortune.

Menurutnya, masalah muncul ketika teknologi digunakan terlalu cepat tanpa memperhatikan proses keamanan dan kontrol kualitas.

“Ini adalah argumen menentang kecepatan demi kecepatan itu sendiri atau menggunakan AI demi menggunakan AI,” ujarnya.

Peringatan tersebut juga sejalan dengan komentar dari Elon Musk yang sebelumnya menanggapi laporan tentang pertemuan Amazon dengan pesan singkat, “Berhati-hatilah.”

Olejnik menilai bahwa peringatan tersebut relevan karena transisi dari pengkodean yang sepenuhnya dikelola manusia menuju sistem berbasis AI bisa menimbulkan risiko jika dilakukan terlalu cepat.

“AI membawa banyak peluang, tetapi ada jalan tengah antara menjadi usang karena tidak menggunakan AI, dan menghancurkan bisnis karena penerapan yang salah,” katanya.

Di tengah kekhawatiran tersebut, Amazon tetap meningkatkan investasinya di bidang AI. Perusahaan diperkirakan mengalokasikan belanja modal hingga 200 miliar dolar AS pada 2026, meningkat dari sekitar 131 miliar dolar AS pada tahun sebelumnya.

Rekomendasi Berita