Filosofi Nastar, Kue Manis Penuh Makna saat Lebaran
- 05 Mar 2026 10:11 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Nastar menjadi salah satu kue kering yang hampir selalu hadir di setiap perayaan Idul Fitri. Kue bulat dengan isian selai nanas ini bukan hanya sekadar makanan manis, melainkan juga menyimpan filosofi yang mendalam mengenai kebersamaan dan harapan baik.
Secara etimologi, istilah nastar berasal dari bahasa Belanda, yaitu ananas (nanas) dan taart (kue). Kue ini mulai dikenal di Indonesia pada masa penjajahan dan kemudian beradaptasi dengan selera lokal. Selai nanas yang menjadi isinya dipilih karena buah nanas melambangkan keberuntungan dan kemakmuran dalam berbagai budaya di Asia.
Bentuk nastar yang bulat mencerminkan tekad bulat serta keutuhan dalam hubungan antar individu. Saat Lebaran, nastar disajikan sebagai lambang silaturahmi dengan rasa manis yang diharapkan menggambarkan manisnya hubungan yang terjalin kembali setelah saling memaafkan.
Proses pembuatannya pun memiliki makna tersendiri. Dari mengaduk adonan, membentuk bulat-bulatanya, hingga mengisi selai dan memanggang, semua tahap tersebut membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Ini mencerminkan nilai perjuangan dan ketekunan sebelum akhirnya dapat menikmati hasil yang manis.
Tidaklah mengherankan jika nastar selalu menjadi primadona di atas meja tamu. Lebih dari sekadar kue, nastar merupakan simbol kebersamaan, kehangatan keluarga, serta harapan untuk kehidupan yang lebih manis pada hari yang fitri.