Penulis di Baubau Terbitkan Empat Buku Cerita Anak

  • 05 Feb 2025 20:10 WIB
  •  Baubau

KBRN, Baubau: Salah seorang penulis buku anak asal Baubau, Zulyah, yang akrab disapa Kak Zul, berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan menerbitkan empat buku cerita anak.

Keempat buku tersebut diterbitkan oleh Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara dan menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya lokal melalui karya sastra.

Kisah-kisah yang diangkat dalam buku-buku tersebut menggambarkan berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari kearifan budaya hingga isu-isu lingkungan.

Kak Zul berbagi kebanggaannya melalui podcast RRI Baubau yang disiarkan pada Senin(27/1/2025). Dalam kesempatan tersebut, ia menceritakan proses kreatif di balik buku-buku yang berhasil diterbitkan dan pentingnya melibatkan anak-anak dalam mencintai bahasa daerah.

Berikut ini adalah empat buku cerita anak karya Kak Zul yang telah diterbitkan:

1. Wa Ambe dan Ikan-Ikan

Buku ini mengisahkan keceriaan anak-anak pesisir di Kelurahan Bone-Bone, Baubau. Mereka bermain di pelabuhan Jodoh, menangkap ikan dengan baju, dan asyik bermain tebak-tebakan nomor kapal yang melintas.

2. Tuan Bantal dan Tuan Kelomang

Buku ini bercerita tentang sebuah bantal yang merasa sedih setelah dihanyutkan ke sungai saat prosesi adat Buton, pada hari ketujuh peringatan wafatnya salah seorang kerabat. Kesedihan bantal ini kemudian ia bagikan pada sahabatnya, yaitu seekor kelomang.

3. Pohon Kelapa yang Bersedih

Mengangkat tema perubahan iklim, buku ini menceritakan kesedihan pohon kelapa di pesisir Batauga. Pohon kelapa tersebut merasa khawatir akan masa depannya karena pasir di sekitarnya terus digali oleh warga. Ia takut nasibnya akan sama dengan pohon-pohon lainnya yang telah tumbang lebih dulu.

4. Bantal Kakek

Buku ini menggambarkan kisah seorang cucu yang merasakan kesedihan mendalam karena harus merelakan bantal kakeknya yang telah meninggal untuk dihanyutkan ke sungai. Ini adalah bagian dari tradisi adat Buton yang mewajibkan barang-barang pribadi orang yang telah meninggal, seperti bantal dan sarung, untuk dihanyutkan pada hari ketujuh setelah kematiannya.

Kak Zul mengungkapkan, meskipun buku-bukunya ditulis dalam bahasa Indonesia, Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara menerjemahkannya ke dalam Bahasa Wolio. Ini merupakan bagian dari upaya Kantor Bahasa untuk mengajarkan anak-anak untuk mencintai dan melestarikan bahasa daerah.

"Ini adalah program Kantor Bahasa untuk menerbitkan buku cerita anak dan mereka mengubahnya dalam bahasa daerah, jadi ini adalah upaya untuk bagaimana anak-anak sekarang bisa mencintai bahasa daerah,"kata Kak Zul dengan bangga.

Dengan diterbitkannya buku-buku tersebut, Kak Zul berharap karya-karyanya dapat memberikan edukasi serta membangkitkan rasa cinta anak-anak terhadap budaya dan bahasa daerah mereka.

Rekomendasi Berita