Ribuan Warga Padati Pawai Cue Lak, Simbol Kerukunan yang Kokoh

  • 22 Feb 2026 15:10 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Bengkalis - Dentuman mercun, kembang api dan lantunan musik tradisional Tionghoa bergema nyaring di Kota Sungai Pakning, Kabupaten Bengkalis, pada Minggu 22 Februari 2026. Ribuan pasang mata dari berbagai kalangan tumpah ruah memadati ruas jalan, menyaksikan kemeriahan pawai tahunan dalam rangka perayaan hari keenam Imlek 2577 atau yang dikenal dengan tradisi Cue Lak, sekaligus memperingati Ulang Tahun Dewa Ching Cui Co Seng Kong.

Pawai yang identik dengan nuansa sakral namun meriah ini menjadi magnet yang mampu menyedot perhatian publik. Bukan hanya warga keturunan Tionghoa, tetapi masyarakat Melayu dan berbagai etnis lainnya terlihat berbaur, berdampingan dengan antusias menyaksikan iring-iringan yang melintas. Pemandangan ini kembali menegaskan bahwa kerukunan di kota kecil ini terjalin kokoh dan hangat.

Pawai spektakuler ini dimulai dari halaman Vihara Hock Hian Kiong yang terletak strategis di sebelah Pelabuhan Roro Sungai Selari. Sejak pagi, Vihara yang menjadi pusat spiritual warga Tionghoa di kawasan itu sudah dipenuhi umat yang melakukan ritual doa dan persiapan sakral .

Rombongan pawai kemudian bergerak menuju pusat Kota Sungai Pakning, dengan rute akhir di depan Wisma Wisata di Jalan Sudirman. Di sepanjang rute yang dilalui, gemuruh petasan bersahut-sahutan, menambah semarak pawai yang diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai kalangan usia .

Beberapa hal yang menjadi daya tarik utama dalam pawai ini bukan hanya kemeriahannya, tetapi juga nilai spiritual yang menyertainya. Beberapa peserta pawai, yang dikenal sebagai Tangkie, berada dalam kondisi tidak sadar (trance) atau dirasuki roh dewa.

Mereka memperlihatkan atraksi ekstrem namun menakjubkan, seperti menusuk lidah dan pipi dengan besi tajam atau memukulkan pedang ke tubuh mereka sendiri. Ajaibnya, atraksi tersebut tidak meninggalkan luka sedikit pun, sebuah fenomena yang selalu menyedot decak kagum para penonton .

Tak kalah seru, atraksi Kiu atau tandu dewa juga menjadi primadona. Tandu berisi patung dewa ini diusung oleh empat orang pemikul.

Mereka beradu kekuatan dengan cara menggoyangkan tandu ke kiri dan kanan. Siapa yang tidak kuat menahan goyangan, akan terjatuh. Permainan ini menjadi simbol keberkahan dan selalu dinanti-nantikan masyarakat .

Arak-arakan lainnya menampilkan barisan liong (naga) dan barongsai yang lincah beraksi, serta rombongan pembawa bendera warna-warni dan umat yang membawa dupa sebagai simbol permohonan berkat .

Kemeriahan pawai ini mendapat sambutan hangat dari para tokoh masyarakat dan panitia pelaksana, Setya Prabowo yang akrab disapa Apau, selaku Ketua Vihara Hock Hian Kiong Sungai Pakning, menyampaikan rasa syukurnya atas kelancaran acara. Ia menekankan bahwa tradisi ini adalah warisan leluhur yang harus dijaga.

"Perayaan Cue Lak ini adalah wujud syukur dan penghormatan kami kepada leluhur. Yang membuat kami bahagia, setiap tahun antusiasme masyarakat tidak pernah surut. Bukan hanya warga Tionghoa, tapi saudara-saudara kita dari etnis Melayu dan lainnya juga ikut memeriahkan. Ini bukti bahwa di Sungai Pakning, kebhinekaan itu nyata dan rukun," ujar Apau kepada wartawan di sela-sela acara.

Senada dengan itu, Steven Hanly, selaku Ketua Panitia Acara Imlek 2577, Vihara Hock Hian Kiong, menambahkan bahwa persiapan pawai tahun ini dilakukan dengan matang. Pihaknya sengaja mengemas acara agar lebih menarik sebagai daya tarik wisata religi.

"Kami mengusung semangat keterbukaan. Pawai ini kami persembahkan untuk seluruh masyarakat Sungai Pakning, tanpa terkecuali. Atraksi seperti Kiu dan Tangkie adalah kekayaan budaya yang harus dilestarikan dan bisa dinikmati bersama. Terima kasih kepada seluruh pihak, termasuk Pemerintah Kecamatan Bukit Batu, yang selalu mendukung kegiatan ini sehingga bisa berjalan aman dan lancar," ungkap Steven .

Sutarmi (45), seorang warga Melayu yang tinggal di dekat pasar, mengaku sudah tidak sabar menanti pawai ini setiap tahunnya. Ia sengaja membawa ketiga anaknya untuk menyaksikan atraksi barongsai sejak dini hari.

"Setiap tahun saya nonton, ramai sekali. Saya suka lihat barongsai dan atraksi yang kebal senjata tajam itu. Anak-anak saya juga senang. Ini hiburan gratis dan yang penting, kita semua rukun dan damai," ujarnya dengan wajah sumringah.

Pemandangan serupa terlihat di sepanjang Jalan Sudirman. Warga dari berbagai kalangan duduk lesehan, berdiri di tepi jalan, bahkan ada yang naik ke atas kendaraan roda dua hanya untuk mendapatkan sudut pandang terbaik.

Tak lupa, gawai mereka arahkan untuk mengabadikan setiap momen yang langka ini. Seorang Camat Bukit Batu, seperti dalam perayaan tahun-tahun sebelumnya, selalu menegaskan bahwa kegiatan ini adalah cermin toleransi yang berjalan sangat baik di Kecamatan Bukit Batu .

Pawai Cue Lak di Sungai Pakning bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah pesta rakyat yang merangkum doa, harapan, dan kebersamaan.

Di tengah hiruk-pikuk modernisasi, tradisi ini menjadi oase yang mengingatkan semua orang akan indahnya perbedaan yang menyatu dalam harmoni. Pawai hari itu akhirnya kembali lagi ke Vihara Hock Hian Kiong, namun kehangatan dan pesan kerukunannya akan terus melekat di hati ribuan warganya hingga tahun depan tiba.

Rekomendasi Berita