Al Quran Braille dan Digital dari Madinah

  • 25 Feb 2026 10:04 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Madinah — Komitmen menjaga kemurnian Al-Qur’an tidak hanya diwujudkan melalui pencetakan mushaf standar Rasm Utsmani, tetapi juga melalui inovasi inklusif dan pemanfaatan teknologi modern. Di King Fahd Complex for the Printing of the Holy Qur'an, proses produksi dilakukan dengan standar ketat, melibatkan ulama, ahli qira’at, hingga tenaga profesional di bidang percetakan.

Selain mushaf reguler yang tersebar di berbagai negara, kompleks ini juga memproduksi Al-Qur’an braille bagi penyandang tunanetra. Mushaf braille dicetak menggunakan teknik khusus agar huruf-huruf hijaiyah dapat diraba dan dibaca dengan nyaman oleh jemari. Prosesnya membutuhkan ketelitian ekstra karena setiap titik timbul harus presisi agar tidak terjadi kesalahan makna.

Tak hanya itu, percetakan ini juga memproduksi rekaman bacaan Al-Qur’an dari qari internasional. Rekaman tersebut melalui tahap seleksi dan validasi ketat untuk memastikan kesesuaian tajwid dan qira’at. Hasilnya kemudian didistribusikan dalam bentuk media audio maupun digital yang dapat diakses umat Islam di berbagai belahan dunia.

Ustad Gibran Syaiful Bahri, mutawif Arminareka yang kerap menjelaskan hal ini kepada jamaah Indonesia, menilai langkah tersebut sebagai bentuk perhatian menyeluruh terhadap kebutuhan umat.

“Percetakan ini tidak hanya memikirkan distribusi mushaf biasa. Mereka juga menghadirkan Al-Qur’an braille untuk saudara-saudara kita yang tunanetra. Ini bukti bahwa semua umat punya hak yang sama untuk membaca dan mendekat kepada Al-Qur’an,” ujar Ustad Gibran.

Ia menambahkan, penggunaan teknologi modern di kompleks percetakan tersebut tetap berada di bawah pengawasan ketat para ulama dan ahli qira’at.

“Setiap mushaf sebelum dicetak massal akan melalui proses tashih berlapis. Ada tim ulama yang memeriksa huruf per huruf. Jadi bukan hanya mesin yang bekerja, tetapi juga ilmu dan amanah besar di dalamnya,” jelasnya.

Dengan dukungan mesin cetak berkapasitas tinggi dan sistem kontrol kualitas digital, jutaan eksemplar Al-Qur’an dapat diproduksi setiap tahun tanpa mengurangi ketelitian. Kombinasi antara teknologi dan pengawasan syariah inilah yang menjadikan Madinah tetap menjadi pusat penjagaan kemurnian Al-Qur’an di era modern.

Upaya tersebut sekaligus menegaskan bahwa pelayanan terhadap kitab suci tidak berhenti pada pencetakan, tetapi juga memastikan akses yang luas, akurat, dan inklusif bagi seluruh umat Islam.

Rekomendasi Berita