Filosofi Jeruk Mandarin saat Imlek
- 17 Feb 2026 16:12 WIB
- Bengkulu
RRI.CO.ID, Bengkulu - Jeruk mandarin menjadi salah satu simbol yang tidak terpisahkan dari perayaan Tahun Baru Imlek. Buah ini hampir selalu hadir di rumah, vihara, hingga bingkisan yang dibagikan kepada kerabat dan sahabat.
Dalam budaya Tionghoa, jeruk mandarin melambangkan keberuntungan dan kemakmuran. Warna oranye keemasan pada jeruk dipercaya menyerupai warna emas yang identik dengan rezeki dan kesejahteraan.
Selain warna, pelafalan kata jeruk juga memiliki makna tersendiri. Dalam beberapa dialek Tionghoa, kata jeruk terdengar mirip dengan kata yang berarti keberuntungan dan kesuksesan.
Jeruk mandarin biasanya disajikan dalam jumlah genap saat Imlek. Angka genap dipercaya membawa keseimbangan dan keharmonisan, berbeda dengan angka ganjil yang kerap dihindari dalam tradisi perayaan.
Tradisi saling memberi jeruk juga mengandung pesan doa dan harapan baik. Saat seseorang memberikan jeruk, hal itu dimaknai sebagai bentuk berbagi keberuntungan kepada penerimanya.
Peletakan jeruk di altar sembahyang menjadi simbol rasa syukur atas rezeki yang diterima sepanjang tahun. Umat berharap di tahun yang baru, kehidupan akan dipenuhi kelimpahan, kesehatan, dan kebahagiaan.
Lebih dari sekadar buah, jeruk mandarin memiliki nilai filosofis yang mendalam dalam perayaan Imlek. Kehadirannya menjadi pengingat akan harapan hidup yang lebih baik, penuh berkah, dan harmonis di tahun yang baru.