Fakta Unik! Bahasa di Madagaskar Punya Kaitan dengan Kalimantan
- 27 Feb 2026 17:22 WIB
- Biak
RRI.CO.ID, Biak - Madagaskar selama ini dikenal sebagai bagian dari Afrika. Namun di balik letak geografisnya, tersimpan kisah panjang tentang hubungan lintas samudra dengan Nusantara, terutama Kalimantan.
Dikutip dari goodnewsfromindonesia.id, bahasa yang digunakan masyarakatnya, yaitu Bahasa Malagasi, ternyata termasuk dalam rumpun Austronesia—keluarga bahasa yang juga digunakan di Indonesia, Filipina, dan kawasan Pasifik. Fakta ini membuat Madagaskar memiliki ikatan linguistik yang kuat dengan Asia Tenggara.
Para peneliti menemukan bahwa struktur kalimat, kosakata dasar, dan sistem bunyi bahasa Malagasi memiliki kemiripan mencolok dengan bahasa-bahasa di Kalimantan. Hubungan paling dekat sering dikaitkan dengan Bahasa Ma'anyan yang dituturkan oleh masyarakat Dayak di pedalaman. Banyak kata tentang angka, anggota tubuh, hingga hubungan keluarga yang hampir sama bentuk dan maknanya.
Kesamaan ini diyakini sebagai hasil migrasi nenek moyang Austronesia sekitar awal milenium pertama Masehi. Mereka diperkirakan berlayar menyeberangi Samudra Hindia menggunakan perahu bercadik, teknologi maritim yang berkembang di Nusantara. Dengan kemampuan membaca bintang, arus laut, dan angin muson, mereka menempuh perjalanan ribuan kilometer hingga tiba di Madagaskar.
Setibanya di sana, para pendatang dari Asia Tenggara berbaur dengan penduduk Afrika Timur. Perpaduan ini membentuk identitas baru yang unik—campuran unsur Afrika dan Austronesia, baik secara budaya, bahasa, maupun genetika.
Bahasa Malagasi kemudian berkembang menjadi bahasa nasional dengan berbagai dialek daerah. Walau mendapat pengaruh dari bahasa Afrika dan Eropa seperti Prancis, fondasi Austronesianya tetap kuat. Penelitian linguistik menunjukkan ratusan kosakata dasarnya masih memiliki kemiripan signifikan dengan bahasa di Kalimantan, terutama Ma’anyan.
Bukti lain datang dari studi genetika dan arkeologi. Analisis DNA menunjukkan adanya campuran gen Asia Tenggara dan Afrika Timur pada penduduk Madagaskar. Selain itu, temuan tanaman budidaya seperti pisang dan padi—yang berasal dari Asia Tenggara—menguatkan dugaan bahwa para migran juga membawa pengetahuan pertanian dan budaya mereka.
Kisah ini membuktikan bahwa lautan bukanlah penghalang, melainkan penghubung antarperadaban. Hubungan antara Madagaskar dan Kalimantan menjadi contoh nyata bagaimana manusia sejak ribuan tahun lalu telah menjalin koneksi lintas benua.
Bagi Indonesia, khususnya masyarakat Kalimantan, fakta ini menjadi kebanggaan tersendiri. Bahasa yang masih digunakan di Madagaskar hari ini adalah jejak hidup dari perjalanan panjang leluhur Nusantara yang berlayar jauh, membangun komunitas baru, namun tetap meninggalkan warisan yang tak terhapus oleh waktu.