Keunikan Pulau Kembang, Pulau Kecil yang Dihuni Ratusan Kera Ekor Panjang

  • 10 Mar 2026 15:27 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak - Pulau Kembang merupakan sebuah pulau kecil seluas sekitar 60 hektare yang terletak di Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan. Pulau ini tidak dihuni oleh manusia, melainkan menjadi habitat alami bagi ratusan kera ekor panjang yang hidup dan berkembang biak di kawasan tersebut. Kondisi tanahnya berupa rawa sehingga tidak banyak tanaman buah yang dapat tumbuh. Meski demikian, populasi kera di pulau ini sangat besar sehingga Pulau Kembang kerap dijuluki sebagai “Pulau Kera”.

Letaknya sekitar 1,5 kilometer dari Kota Banjarmasin dan dapat ditempuh menggunakan perahu tradisional yang dikenal dengan sebutan klotok. Melansir goodnewsfromindonesia, perjalanan menuju pulau ini biasanya memakan waktu sekitar 15 menit melalui aliran Sungai Barito. Pemandangan sepanjang perjalanan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung yang ingin melihat kehidupan kera secara langsung di habitat alaminya.

Pulau Kembang juga dikenal memiliki cerita sejarah yang unik dan penuh nuansa misteri. Berdasarkan penelitian dari Universitas Lambung Mangkurat, terdapat dua versi cerita yang berkembang di masyarakat mengenai asal-usul pulau ini. Versi pertama berkaitan dengan kisah keturunan raja di Kuin yang belum memiliki anak. Seorang ahli nujum menyarankan agar pasangan tersebut melakukan ritual badudus atau mandi-mandi di pulau tersebut. Setelah menjalankan ritual itu, sang istri dikabarkan hamil sehingga raja memerintahkan agar pulau tersebut dijaga oleh petugas kerajaan.

Para penjaga kerajaan kemudian membawa dua ekor warik atau kera besar, jantan dan betina. Konon, para penjaga itu menghilang secara misterius, sementara kedua kera yang ditinggalkan berkembang biak dan menjadi penghuni pulau. Masyarakat setempat percaya kawanan kera tersebut dipimpin oleh seekor kera besar yang disebut Anggur. Sejak saat itu, pulau ini juga dikenal sebagai tempat orang bernazar dengan membawa sesajen seperti pisang, telur, bunga, dan mayang pinang.

Sementara itu, versi kedua menyebutkan bahwa Pulau Kembang berkaitan dengan peristiwa pada tahun 1698 ketika pedagang Inggris mencoba membuka kantor dagang di Banjarmasin. Hubungan yang tidak harmonis dengan Kerajaan Banjar membuat Sultan Banjar meminta bantuan masyarakat Biaju dari pedalaman Sungai Barito untuk menyerang benteng Inggris. Dalam peristiwa tersebut, kapal-kapal Inggris dibakar dan sisa-sisanya lama-kelamaan membentuk daratan yang kemudian ditumbuhi tanaman dan dihuni oleh kawanan kera.

Secara geologis, Pulau Kembang merupakan delta yang terbentuk dari proses sedimentasi Sungai Barito selama ribuan tahun. Pulau ini memiliki berbagai flora seperti rambai, jambu, tancang, rengas, dan nipah, serta fauna khas seperti bekantan dan beberapa jenis elang. Sejak tahun 1979, Pulau Kembang telah ditetapkan sebagai hutan wisata dan termasuk dalam kawasan Geopark Pegunungan Meratus. Hingga kini, pulau ini tetap menjadi salah satu destinasi wisata yang menarik sekaligus kawasan konservasi yang terus dijaga kelestariannya.

Rekomendasi Berita