Biak Hadirkan Sistem Evakuasi Medis Terintegrasi untuk Penyelam

  • 28 Nov 2025 21:05 WIB
  •  Biak

KBRN, Biak : Keindahan bawah laut Biak Numfor menjadi surga bagi pecinta wisata selam. Guna menjamin keselamatan wisata selam, Kabupaten Biak Numfor kini memiliki sistem penanganan medis terintegrasi lengkap dengan teknologi chamber hiperbarik dan aplikasi evakuasi darurat.

Standar Internasional Jadi Pegangan Utama

Yudith, instruktur scuba dive sekaligus anggota World Recreational Training Scuba Council (WRTC), menegaskan pentingnya mengikuti standar internasional dalam penyelaman.

"Menyelam tidak bisa dilakukan tanpa mengikuti standar pelatihan. Bagaimana kita mau bermain dengan nyawa, sedangkan kita sendiri tidak tahu standar keselamatannya seperti apa," ujarnya dalam Bincang Pagi RRI, Kamis (27/11/2025).

Menurutnya, standar keselamatan dimulai dari kondisi fisik dan mental penyelam yang sehat, dilanjutkan dengan mengikuti pelatihan resmi yang mengajarkan prosedur keselamatan secara detail.

"Sertifikasi menyelam sangat penting. Kalau tidak ada kejadian apapun mungkin tidak masalah, tapi begitu ada kejadian, itu akan jadi masalah karena kita tidak punya legalitas atau kompetensi," ucap Yudith.

Pelanggaran Standar Kedalaman Jadi Penyebab Utama

David Adrian Saiya, instruktur scuba dive sekaligus Dive Center Manager di Catalina Biak, mengungkapkan bahwa mayoritas insiden terjadi akibat penyelam mengabaikan batasan sertifikasi mereka.

"Contohnya seorang open water diver yang maksimum kedalamannya 18 meter, kemudian terlalu asik dan mulai diving lebih dari itu. Ada potensi risiko yang timbul di situ yang bisa mengakibatkan insiden," katanya.

David menekankan pentingnya pengecekan menyeluruh sebelum diving, mulai dari kondisi fisik dan mental, peralatan, hingga kondisi arus laut. Informasi ini akan disampaikan dalam briefing untuk mengantisipasi potensi bahaya.

"Di dalam diving ada dua objektif yakni primary objektif adalah safety, secondary adalah explore atau ambil dokumentasi dalam air. Kalau kondisi penyelaman dirasa tidak aman, kita sewaktu-waktu bisa membatalkan penyelaman," ucap anggota World Recreational Training Scuba Council (WRTC).

Sindrom Dekompresi Ancam Nyawa Penyelam

dr. Gerard A. Juswanto, spesialis neurologi RSUD Biak, menjelaskan bahaya serius yang mengintai para penyelam, yaitu sindrom dekompresi atau caisson disease.

"Sindrom dekompresi menyerang saraf-saraf tepi atau sampai di saraf pusat. Gejalanya mulai dari gatal, nyeri sendi, kesemutan, kelumpuhan tungkai, sampai gejala seperti stroke," ujarnya.

Kondisi ini terjadi ketika gelembung nitrogen yang belum menjadi gas tersumbat di pembuluh darah. Yang lebih mengkhawatirkan, sindrom ini bisa tersamar dengan penyakit lain.

"Terkadang dalam penyelaman bisa terjadi gangguan jantung atau stroke yang tersamarkan dengan sindrom dekompresi. Bisa terjadi kematian mendadak di laut," kata konseptor aplikasi NAM.

Ia menyebut angka kematian akibat stroke di Indonesia mencapai 21,1 persen dan penyakit jantung 12,9 persen, yang keduanya bisa dipicu atau diperburuk oleh aktivitas penyelaman yang tidak sesuai prosedur.

Sementara untuk penyelam tradisional atau nelayan, situasinya lebih memprihatinkan.

"85 persen nelayan laut pasti pernah mengalami dekompresi. Mereka sering datang sudah lumpuh atau tidak bisa bicara karena belum tersertifikasi," kata dr. Gerard.

Fasilitas Chamber Hiperbarik Selamatkan Jiwa

RSUD Biak kini dilengkapi dengan chamber hiperbarik oksigen terapi yang menjadi penyelamat bagi korban sindrom dekompresi. Alat ini tidak hanya untuk terapi, tetapi juga untuk tes toleransi oksigen sebelum menyelam.

"Ketika kita turun di satu atmosfer, tekanan di dalam air lebih besar dibanding di permukaan. Ini bisa dicek dengan oksigen toleransi test untuk melihat apakah ada risiko," ucap dr. Gerard.

Chamber ini juga berfungsi untuk nitrogen wash out, yaitu mengeluarkan sisa gelembung nitrogen yang masih tersisa dalam tubuh setelah repetitive dive.

"Alat ini sudah beroperasi dan menyelamatkan banyak penyelam rekreasional maupun tradisional," katanya.

Sistem Evakuasi Terintegrasi dengan Aplikasi

Antonioes Andrianto, Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Rujukan Dinas Kesehatan Biak Numfor, menjelaskan terkait sistem evakuasi medis yang telah dibangun sejak 2023.

"Kita berupaya bagaimana akses pelayanan kesehatan bisa sedekat mungkin, secepat mungkin, agar bisa menangani pasien secara cepat, tepat, dan aman," katanya.

Sistem ini menggunakan aplikasi NAM dalam platform VNWT yang terhubung langsung dengan Public Safety Center 119 (PSC), tim stroke rumah sakit, dan dokter. (*aplikasi NAM, dapat diunduh di https://play.google.com/store/apps/details?id=com.vigoraction.app).

"Setelah data di-input dan di-checklist, otomatis langsung masuk di PSC. Notifikasi akan masuk dan kami langsung menindaklanjuti," ucap Antonioes.

Saat menerima panggilan darurat, tim PSC akan memberikan arahan pertolongan pertama kepada instruktur atau keluarga korban sebelum ambulans tiba.

"Kita akan panduan, misalnya kalau pasien masih sadar, miringkan ke kiri supaya tidak ada hambatan jalan napas. Kalau sudah tidak sadar, lakukan RJP sambil menunggu ambulans," ujarnya.

Ia juga mengatakan, waktu respons ambulans di wilayah kota sekitar 10-15 menit. Untuk daerah pinggir, PSC berkoordinasi dengan puskesmas setempat agar penanganan lebih cepat.

Protokol Penanganan Prehospital Standar ABCDE

Setibanya di lokasi, petugas akan melakukan pemeriksaan ABCDE: airway (jalan napas), breathing (pernapasan), circulation (sirkulasi), disability (kecacatan/kesadaran), dan exposure (paparan/luka).

"Untuk kasus dekompresi, penanganan awal wajib memberikan oksigen murni tinggi. Ambulans kami dilengkapi dua tabung oksigen yang selalu standby penuh dan alat emergensi lengkap," kata Antonioes.

Setelah stabilisasi di lokasi, pasien baru dievakuasi ke rumah sakit, ia menambahkan evakuasi tidak asal angkut pasien. Tim PSC selalu memprioritaskan penanganan awal agar sesampainya di rumah sakit dapat segera dilakukan tata laksana secara maksimal.

Layanan BEMTOS untuk Wisatawan

Untuk meningkatkan rasa aman wisatawan, Antonioes menyebutkan Dinas Kesehatan Biak Numfor juga meluncurkan layanan Biak Emergency Medical Towering Support (BEMTOS). Layanan ini bekerja sama dengan hotel dan tempat wisata untuk memberikan respons cepat terhadap keadaan darurat medis.

"Jangankan untuk dekompresi, misalnya wisatawan kena karang, batuk, pilek, atau demam, bisa langsung hubungi kami. Kami langsung datang dengan tim," ujarnya.

Dengan sistem terintegrasi ini, diharapkan dapat menekan angka kecacatan dan kematian akibat insiden penyelaman, sekaligus memberikan jaminan keamanan bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin menikmati keindahan bawah laut Biak Numfor.

Rekomendasi Berita