Hati-hati! AI Animasi Bisa Bocorkan Data

  • 28 Feb 2026 14:17 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Mengubah foto pribadi menjadi ilustrasi animasi menggunakan teknologi Kecerdasan Buatan (AI) tengah ramai di media sosial seperti Instagram, TikTok, dan LinkedIn. Pengguna mengunggah gambar diri dan meminta AI membuat versi animasi yang mencerminkan kehidupan pribadi, pekerjaan, hingga aktivitas harian mereka.

Di balik keseruan tren ini, ahli keamanan siber memperingatkan adanya risiko kebocoran data pribadi yang serius. Adrian Hia, Managing Director Kaspersky untuk Asia Pasifik, menyatakan setiap detail yang diberikan—mulai foto, nama, jabatan, lokasi, hingga hobi—dapat dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk merancang penipuan yang sangat terpersonalisasi. (Keterangan tertulis, Selasa, 24 Februari 2026)

Instruksi yang meminta AI membuat karikatur berdasarkan semua informasi yang tersedia memaksa sistem untuk mengakses beragam data pengguna. Selain foto, banyak orang juga mencantumkan nama perusahaan, jabatan, kota domisili, rutinitas harian, serta informasi keluarga.

Gabungan berbagai data tersebut menciptakan profil digital lengkap yang bisa dijadikan peta bagi penjahat siber. Dengan informasi ini, penipu mampu membuat email phishing atau skema rekayasa sosial yang tampak sangat meyakinkan, bahkan bagi orang yang biasanya berhati-hati. Risiko ini lebih tinggi di kawasan Asia Pasifik, di mana adopsi AI mencapai 78% di kalangan profesional, lebih tinggi dari rata-rata global 72%.

Selain itu, bergantung pada kebijakan masing-masing platform AI, foto asli, perintah pengguna, riwayat penggunaan, hingga data teknis seperti alamat IP dan perangkat dapat disimpan dan digunakan untuk pelatihan model AI, sehingga tidak langsung terhapus setelah konten dibuat.

Untuk meminimalkan risiko, Kaspersky menyarankan praktik kebersihan digital. Hindari memberikan informasi yang dapat mengidentifikasi diri secara spesifik, seperti nama lengkap, jabatan, perusahaan, kota, alamat rumah, jadwal harian, atau data keluarga. Jangan mengunggah gambar yang memperlihatkan logo, dokumen, plat nomor kendaraan, layar gadget, atau elemen lain yang bisa mengaitkan pengguna dengan organisasi tertentu.

Pengguna juga perlu membaca kebijakan privasi platform sebelum menggunakannya, termasuk ketentuan penyimpanan dan pemakaian data untuk pelatihan AI. Adrian Hia menegaskan, “Membuat karikatur kehidupan pribadi dengan AI mungkin terlihat sekadar hiburan, tapi nyatanya memberikan informasi gratis yang bisa disalahgunakan penjahat siber.”

Rekomendasi Berita