Dari Persia ke Iran: Sejarah, Asal-Usul Nama, dan Alasan Pergantiannya
- 11 Mar 2026 13:24 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Ketika ketegangan geopolitik meningkat akibat serangan Amerika Serikat dan Israel yang memicu respons dari Iran, perhatian dunia kembali tertuju pada negeri kuno yang dahulu dikenal sebagai Persia. Nama Persia kembali bergema dalam berbagai pemberitaan, seakan membuka kembali lembaran sejarah panjang tentang kekaisaran besar, identitas bangsa, serta dinamika politik yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Meski populer di dunia Barat, sebutan Persia sebenarnya bukanlah nama yang lazim digunakan oleh penduduk negeri tersebut untuk menyebut diri mereka sendiri. Bagi masyarakat setempat, identitas negara mereka lebih erat dengan nama Iran, istilah yang berakar dari tradisi dan bahasa mereka sendiri sejak zaman kuno.
Istilah Persia berasal dari bahasa Yunani kuno Persís, yang berakar pada kata Parsa, nama wilayah di barat daya dataran tinggi Iran. Wilayah ini dikenal sebagai pusat lahirnya Kekaisaran Akhemeniyah, salah satu imperium terbesar dalam sejarah dunia yang pada puncaknya membentang dari Sungai Indus hingga Laut Aegea.
Para sejarawan klasik menggunakan istilah Persia untuk menggambarkan kekuasaan imperium besar tersebut. Namun bagi sejarawan modern, Persia dipahami sebagai sebuah eksonim, yakni nama yang diberikan oleh pihak luar untuk merujuk pada suatu wilayah atau peradaban.
Sementara itu, jauh sebelum istilah Persia dikenal luas di Barat, masyarakat yang mendiami dataran tinggi Iran telah menyebut tanah mereka sebagai “Iran” atau “Eran”. Kata ini berasal dari bahasa Indo-Iran kuno Arya yang berarti “mulia”, sehingga Iran dapat dimaknai sebagai “Tanah Bangsa Arya”.
Sepanjang sejarah, berbagai dinasti yang memerintah wilayah tersebut mulai dari Sassania hingga Safawi tetap mempertahankan penggunaan istilah Iran dalam gelar resmi dan prasasti kerajaan. Meski demikian, dunia luar, terutama melalui tradisi Romawi dan literatur Eropa, terus menggunakan istilah Persia dalam catatan perjalanan, dokumen diplomatik, serta karya ilmiah.
Perubahan resmi terjadi pada 1935 ketika penguasa saat itu, Reza Shah Pahlavi, meminta komunitas internasional menggunakan nama Iran dalam hubungan diplomatik. Permintaan tersebut dikirimkan kepada berbagai kedutaan asing sebagai penegasan bahwa nama yang digunakan rakyatnya sendiri merupakan identitas resmi negara di panggung global.
Sejak saat itu, Iran menjadi nama resmi negara dalam konteks politik dan hukum internasional. Meski demikian, istilah Persia tetap bertahan dalam ranah budaya dan sejarah digunakan untuk merujuk pada warisan seni, sastra, kuliner, serta peradaban panjang yang telah membentuk identitas bangsa tersebut selama ribuan tahun.