Kasus DBD Kabupaten Bogor Awal 2026 Menurun
- 11 Feb 2026 15:19 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor – Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor mencatat tren penurunan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) pada musim penghujan akhir 2025 hingga Februari 2026. Data sementara menunjukkan tidak ada lonjakan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Fusia Meidiawaty, dalam dialog Bogor Pagi Ini Rabu, 11 Februari 2026.
Sepanjang Januari 2026 tercatat 125 kasus DBD di wilayah Kabupaten Bogor. Angka ini dinilai masih terkendali jika dibandingkan total kasus tahun 2025 yang mencapai 2.213 kasus selama 12 bulan. Dinkes memastikan pemantauan terus dilakukan mengingat musim hujan masih berlangsung.
“Kalau kita lihat dari data, justru terjadi penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Tidak ada kenaikan signifikan sampai Februari 2026 ini,” ujar dr. Fusia.
Pada tahun 2025, lima kecamatan dengan kasus tertinggi yakni Cibinong, Cileungsi, Gunung Putri, Jonggol, dan Cisarua. Wilayah tersebut memiliki tingkat kepadatan penduduk dan mobilitas masyarakat yang cukup tinggi. Kondisi itu dinilai turut memengaruhi pencatatan kasus DBD di Kabupaten Bogor.
“Mobilitas masyarakat yang tinggi memungkinkan seseorang terpapar di luar daerah. Namun karena berdomisili di Kabupaten Bogor, maka tercatat sebagai kasus di sini,” jelasnya.
Dari sisi angka kematian, tahun 2025 tercatat enam kasus kematian dari 2.213 kasus DBD. Angka ini menurun signifikan dibandingkan tahun 2024 yang mencatat 3.404 kasus dengan 23 kematian. Untuk tahun 2026, data kematian masih bersifat sementara karena tahun berjalan belum selesai.
“Kalau dibandingkan tahun 2024, jumlah kasus dan kematian di 2025 turun cukup signifikan. Mudah-mudahan tahun ini tidak ada kasus kematian,” tambahnya.
Dalam upaya pencegahan, Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor menerapkan tiga strategi utama. Pertama, Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus, yaitu menguras, menutup, dan mendaur ulang barang yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Langkah ini diperkuat dengan penggunaan lotion anti-nyamuk, pemasangan kelambu, serta pemeliharaan ikan pemakan jentik.
Selain itu, Dinkes telah menerbitkan surat edaran kewaspadaan kepada seluruh puskesmas dan rumah sakit. Rapid test DBD juga didistribusikan ke 101 puskesmas untuk mendukung deteksi dini, khususnya pada pasien demam hari pertama hingga ketiga. Bubuk abate dan penguatan kader jumantik di tingkat RT dan RW turut dioptimalkan.
“DBD bisa dicegah asal kita mau peduli. Jadikan gerakan 3M Plus sebagai kebiasaan karena dampaknya sangat besar bagi kesehatan keluarga,” tegas dr. Fusya.
Kabupaten Bogor memiliki 435 desa dan kelurahan dengan jumlah penduduk sekitar 6,3 juta jiwa. Dinas Kesehatan mengandalkan 101 puskesmas, termasuk 37 puskesmas DTP (Dengan Tempat Perawatan), sebagai garda terdepan pelayanan. Puskesmas DTP diharapkan mampu menangani kasus sesuai indikasi tanpa seluruhnya dirujuk ke rumah sakit.
Dinkes juga mendukung target Kementerian Kesehatan untuk mencapai nol kematian akibat DBD pada 2030. Upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan kader kesehatan, RT/RW, tokoh masyarakat, sekolah, serta pemanfaatan media sosial dan media elektronik. Masyarakat diimbau rutin menguras bak mandi, menutup tempat penampungan air, dan menjaga kebersihan lingkungan.