Bahaya Risiko Hiperglikemia Mengintai di Bulan Puasa
- 21 Feb 2026 15:33 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Berpuasa kerap dianggap aman bagi kadar gula darah karena tubuh tidak menerima asupan makanan selama berjam-jam. Namun, kondisi sebaliknya justru bisa terjadi. Dokter umum dari RST (Rumah Sehat Terpadu) Dompet Dhuafa, dr. Karina Azlia, mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai risiko hiperglikemia, terutama pada pasien diabetes dan mereka yang memiliki faktor risiko.
“Hiperglikemia itu dari katanya saja sudah jelas, hyper artinya berlebih dan glykemia itu kadar gula. Jadi hiperglikemia adalah kondisi kadar gula yang berlebih,” jelas dr. Karina dalam wawancara bersama Pro1 RRI Bogor, Jumat, 20 Februari 2026.
Ia menambahkan, kadar gula puasa dikatakan tinggi bila angkanya melebihi 126 mg/dL. Kondisi ini tidak hanya mengintai pasien yang sudah terdiagnosis diabetes, tetapi juga orang-orang yang belum sadar memiliki risiko.
Tak Hanya Pasien Diabetes
Menurut dr. Karina, pasien diabetes umumnya sudah memahami batasan makanan dan lebih disiplin mengontrol asupan. Justru yang perlu lebih waspada adalah mereka yang merasa sehat, tetapi memiliki riwayat keluarga diabetes.
“Orang yang sudah kena gula biasanya tahu harus mengontrol makanannya. Tapi yang belum terdiagnosis, padahal ada faktor risiko seperti orang tua punya diabetes, itu yang berbahaya karena sering kali tidak sadar,” ujarnya.
Ia menekankan, pengaturan pola makan saat puasa bukan hanya untuk pasien diabetes, tetapi juga bagi masyarakat umum.
Bahaya ‘Balas Dendam’ Saat Berbuka
Fenomena “balas dendam” saat berbuka puasa menjadi salah satu pemicu lonjakan gula darah. Menu takjil yang manis dan menyegarkan seperti es buah, es teler, minuman boba, sirup, hingga cincau memang menggoda. Namun, konsumsi gula sederhana dalam jumlah besar bisa menyebabkan lonjakan gula darah secara drastis.
“Jangan langsung makan atau minum yang terlalu manis saat berbuka. Minuman bersirup yang sudah manis, ditambah gula lagi, itu tidak disarankan,” tegas dr. Karina.
Ia juga menyoroti konsumsi nasi putih sebagai sumber karbohidrat sederhana yang cepat diolah tubuh. Sebagai alternatif, beras merah lebih dianjurkan karena proses penyerapannya lebih lambat sehingga kenaikan gula darah cenderung stabil.
“Beras merah diolah lebih lama oleh tubuh. Jadi naiknya konstan, tidak langsung melonjak lalu turun drastis. Lonjakan tajam itu yang berbahaya,” jelasnya.
Gorengan dan Makanan Ultra Proses Perlu Dibatasi
Tak hanya makanan manis, gorengan yang kerap menjadi pasangan takjil juga sebaiknya dihindari, terutama bagi pasien diabetes dan mereka yang berisiko. Begitu pula makanan ultra processed seperti bakso olahan, sosis, burger, dan berbagai fast food.
“Makanan-makanan ultra processed itu tidak disarankan, bukan hanya untuk pasien diabetes, tapi sebenarnya untuk semua orang,” katanya.
Dr. Karina mengingatkan, puasa seharusnya menjadi momentum memperbaiki pola makan, bukan sebaliknya. Dengan pengaturan asupan yang tepat, risiko hiperglikemia dapat ditekan, dan manfaat puasa bagi kesehatan bisa dirasakan secara optimal.
“Kita harus waspada saat puasa, terutama pada pasien-pasien diabetes. Tapi sebenarnya, semua orang tetap perlu menjaga pola makan agar kadar gula tetap terkendali,” pungkasnya.