Balai Kirti, Merawat Cinta Negeri lewat Museum Kepresidenan RI

  • 12 Feb 2026 20:48 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti menjadi ruang penting untuk menumbuhkan rasa cinta negeri melalui pengenalan jejak kepemimpinan para Presiden Republik Indonesia. Berada di kawasan Istana Bogor, museum ini menyimpan beragam koleksi yang merekam capaian, nilai perjuangan, dan sisi manusiawi para pemimpin bangsa yang telah purnabakti.

Penanggung Jawab Unit Museum Kepresidenan RI Balai Kirti, Linda Siagian, menjelaskan bahwa ruh utama museum terletak pada koleksi presidennya. Balai Kirti, yang berasal dari bahasa Sanskerta, berarti tempat kemasyhuran. Museum ini menampilkan capaian dan perjalanan kepemimpinan Presiden RI dari masa ke masa.

“Balai Kirti adalah tempat yang menampilkan koleksi para Presiden Republik Indonesia yang telah menyelesaikan masa baktinya, sehingga masyarakat bisa mengenal siapa pemimpinnya dan apa saja capaian yang pernah mereka raih,” ujar Linda saat berkunjung ke Studio Pro 1 RRI Bogor pada Kamis, 12 Februari 2026.

Museum Kepresidenan Balai Kirti diinisiasi pada masa Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono pada 2012 dan diresmikan pada 18 Oktober 2014. Museum ini mulai dibuka untuk umum pada 10 November 2014 dengan tujuan memperkenalkan prestasi serta nilai-nilai kepemimpinan Presiden RI kepada masyarakat luas.

Balai Kirti memiliki tiga lantai pameran. Lantai pertama merupakan Galeri Kebangsaan yang menampilkan narasi berdirinya Republik Indonesia, dengan ikon Patung Pengabdian yang menggambarkan enam Presiden RI dari Soekarno hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Lantai kedua menjadi Galeri Kepresidenan yang menyimpan koleksi pribadi para Presiden, termasuk buku-buku yang pernah dibaca atau ditulis oleh mereka, serta dokumentasi penting. Sementara itu, lantai ketiga difungsikan sebagai ruang pendukung dan aktivitas edukatif.

Edukator Museum Kepresidenan Balai Kirti, Ivan, mengungkapkan salah satu koleksi yang paling banyak menarik perhatian pengunjung berada di ruang Presiden B.J. Habibie. Di ruang tersebut, pengunjung dapat melihat kamera Leica milik Habibie serta miniatur pesawat yang dirancang langsung olehnya.

“Anak-anak sekolah biasanya sangat terkesima ketika melihat miniatur pesawat karya Presiden Habibie. Mereka jadi tahu bahwa seorang Presiden juga memiliki latar belakang keilmuan yang kuat,” kata Ivan.

Untuk menarik minat generasi muda, Balai Kirti juga mengembangkan berbagai program publik, salah satunya walking tour kebangsaan yang dikemas secara tematik. Program ini mengajak peserta menelusuri jejak sejarah Presiden RI melalui lokasi-lokasi bersejarah dan kuliner favorit Presiden di Kota Bogor.

Selain itu, museum ini dilengkapi panel digital interaktif, permainan edukatif, serta ruang epilog yang memungkinkan pengunjung beristirahat sambil memahami kembali nilai-nilai yang diperoleh selama berkunjung. Bagi anak-anak, Balai Kirti menghadirkan program edukasi berbasis hobi Presiden, seperti melukis dan berkebun, agar sejarah terasa lebih dekat dan menyenangkan.

Balai Kirti terbuka untuk umum tanpa biaya masuk, namun pengunjung diimbau melakukan reservasi terlebih dahulu melalui situs resmi atau media sosial museum. Pengunjung juga diminta mematuhi protokol berpakaian dan tata tertib karena museum berada di kawasan Ring 1 Istana Kepresidenan.

Linda berharap, kehadiran Museum Kepresidenan Balai Kirti dapat menjadi ruang pembelajaran yang berkelanjutan bagi generasi muda dalam memahami sejarah, menghargai perjuangan, serta menumbuhkan karakter kebangsaan.

“Kami ingin museum ini menjadi ruang yang representatif dalam mengkomunikasikan nilai-nilai perjuangan Presiden Republik Indonesia, guna memperkukuh karakter dan jati diri bangsa,” tuturnya.

Rekomendasi Berita