Rujak Buah, Perpaduan Kesegaran dan Mitos Jawa
- 08 Okt 2025 19:57 WIB
- Bone
KBRN, Bone: Indonesia memiliki jenis hidangan yang tidak hanya sekedar menggugah selera tapi juga kaya manfaat. Bagaimana tidak ? Hidangan itu terdiri dari campuran beberapa jenis buah segar yang dipadukan dengan bumbu kacang yang gurih. Itulah rujak buah.
Saus rujak yang biasanya terbuat dari cabai, gula aren, dan kacang tanah itu seolah menyempurnakan rasa buah yang asam, manis dan segar. Paduan rasa inipun membuat penikmatnya selalu rindu dan mencobanya kembali.
Seperti dilansir dari Wikipedia, Rujak adalah salah satu hidangan tertua dan makanan Jawa Kuno yang diidentifikasi secara historis paling awal yang disebut Rurujak dalam Prasasti Taji Jawa Kuno (901 M). Orang Jawa di Indonesia telah memasukkan rujak ke dalam upacara pranatal mereka yang disebut Naloni Mitoni.
Dalam Budaya Jawa, rujak merupakan bagian penting dari upacara pralahir tradisional yang disebut Naloni Mitoni atau tujuh bulanan (harfiah: bulan ketujuh), dan dimaksudkan untuk mendoakan calon ibu agar persalinannya lancar, lancar dan sukses. Rujak buah khusus dibuat untuk acara ini, dan kemudian disajikan kepada calon ibu dan tamunya, terutama teman wanitanya.
Resep rujak untuk upacara ini mirip dengan rujak buah khas Indonesia, hanya saja buahnya diparut kasar, bukan diiris tipis, dan jeruk bali sebagai bahan utamanya. Dipercaya bahwa jika rujak secara keseluruhan rasanya manis, bayi yang dikandungnya perempuan, dan jika pedas, bayi yang dikandungnya laki-laki.
Di Indonesia, rujak adalah makanan tradisional yang dijual di pasar tradisional, warung atau gerobak keliling oleh penduduk setempat; terutama orang Jawa, Sunda dan Bali. Penamaan rujak diyakini berasal dari bahasa Jawa yang berarti menghancurkan, memotong halus, atau menyayat yang merujuk pada penggunaan bahan untuk membuat rujak yang biasanya dipotong-potong menjadi ukuran lebih kecil terlebih dahulu sebelum disajikan.