Tape Bugis, Sajian Tradisi yang Tetap Dicari

  • 15 Nov 2025 14:08 WIB
  •  Bone

KBRN, Bone; Tape, panganan fermentasi khas Bugis yang dibuat dari beras ketan hitam atau putih, tetap menjadi salah satu sajian tradisional yang paling dicari masyarakat Bone. Meski zaman berubah dan banyak kue modern bermunculan, tape tetap memiliki tempat tersendiri terutama pada acara-acara besar dan momen silaturahmi.

Salah satu pembuat tape di Bone adalah Nuraidah, yang sudah menekuni usaha ini lebih dari 15 tahun. Ia menyebut, tape buatannya memang tidak dijual harian, melainkan diproduksi hanya berdasarkan pesanan.

“Saya buat kalau ada yang pesan, Nak. Biasanya ramai kalau ada acara keluarga atau kegiatan kabupaten yang terima tamu dari luar,” tutur Nuraidah Sabtu 15/11/2025 kepada rri.co.id.

Lonjakan pesanan juga terjadi menjelang Hari Raya Idulfitri. Tape kerap dipilih sebagai suguhan keluarga karena dianggap sebagai hidangan tradisi yang menyimbolkan kehangatan dan kebersamaan.

“Kalau mau lebaran, lebih banyak lagi yang pesan. Bisa sampai 30 liter beras ketan karena banyak orang yang mau suguhkan tape untuk tamunya,” jelasnya.

Di sela percakapan, Nuraidah juga bersedia membocorkan sedikit rahasia resep tape buatannya. Tape buatan Nuraidah diolah dengan teknik sederhana namun membutuhkan ketelitian. Beras ketan dicuci bersih, kemudian dimasak hingga pulen, didinginkan, lalu diberi ragi halus secara merata. Setelah itu, adonan dibentuk bulat, dibungkus daun, dan disimpan dalam wadah tertutup selama 2–3 hari agar proses fermentasi sempurna. Meski tampak sederhana, keseimbangan ragi dan kebersihan bahan menjadi kunci rasa tape yang manis, lembut, dan tidak terlalu berair.

Keberadaan pengrajin seperti Nuraidah menunjukkan bahwa kuliner tradisional masih memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat serta menjadi peluang ekonomi yang terus bertahan. Di tengah modernisasi, cita rasa lokal tetap menjadi pilihan banyak orang untuk merayakan momen penting bersama keluarga.

Rekomendasi Berita