Martabak Telur, Primadona Kuliner Malam Hari

  • 30 Jan 2026 18:42 WIB
  •  Bone

RRI.CO.ID, Bone – Martabak telur dikenal luas sebagai salah satu kuliner malam favorit masyarakat Indonesia. Hidangan berbahan dasar kulit tipis berisi campuran telur, daging cincang, daun bawang dan bumbu rempah ini kerap dijajakan di pinggir jalan hingga pusat kuliner, terutama saat malam hari. Rasanya yang gurih dan penyajiannya yang hangat membuat martabak telur menjadi pilihan banyak orang untuk mengganjal perut di waktu santai.

Keberadaan martabak telur di Indonesia tidak lepas dari pengaruh budaya luar. Berdasarkan catatan sejarah yang dilansir dari Wikipedia, martabak berasal dari kawasan Timur Tengah dan Asia Selatan, yang kemudian menyebar ke Asia Tenggara melalui jalur perdagangan. Di Indonesia, martabak mengalami adaptasi rasa dan bahan sehingga berbeda dengan versi aslinya di negara asal.

Secara etimologis, kata “martabak” berasal dari bahasa Arab murtabbaq yang berarti “terlipat”. Hal ini merujuk pada proses pembuatannya, di mana adonan kulit diisi lalu dilipat sebelum digoreng hingga berwarna keemasan. Seiring waktu, masyarakat Indonesia mengembangkan martabak telur dengan tambahan daging ayam atau sapi, daun bawang, serta racikan bumbu khas Nusantara.

Martabak telur umumnya disajikan bersama kuah cuka yang memiliki rasa asam segar, dilengkapi acar timun dan cabai rawit. Perpaduan ini memberikan sensasi rasa yang seimbang antara gurih, asam, dan pedas. Tak heran jika martabak telur tetap eksis dan digemari lintas generasi.

Di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Bone, martabak telur telah menjadi bagian dari dinamika kuliner malam. Kehadirannya bukan sekadar makanan, tetapi juga mencerminkan pertemuan budaya dan sejarah panjang yang terus hidup di tengah masyarakat hingga kini.

Rekomendasi Berita