Budaya Lisan di tengah Dominasi Media Digital
- 25 Feb 2026 12:54 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Di zaman sekarang, hampir semua orang akrab dengan media digital. Chatting, video call, media sosial, hingga berita online sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Di tengah semua itu, muncul pertanyaan: apakah budaya lisan, yakni komunikasi langsung lewat kata-kata, masih punya tempat?.
Ternyata, budaya lisan tetap penting, meski perannya kini berbeda dari sebelumnya. Budaya lisan adalah cara manusia menyampaikan pesan melalui ucapan, cerita, pantun, atau peribahasa. Di masyarakat tradisional, budaya lisan berfungsi untuk menyampaikan nilai-nilai, sejarah, dan norma.
Misalnya, orang Minangkabau masih menggunakan pepatah seperti “Alah bisa dek biaso” untuk mengajarkan pentingnya latihan dan pengalaman. Bahkan saat ini, budaya lisan tetap hidup di keluarga, pertemuan komunitas, atau acara adat.
Namun, dominasi media digital membuat cara kita berkomunikasi berubah. Banyak orang lebih nyaman mengetik pesan singkat atau mengirim voice note daripada ngobrol langsung. Contohnya, seorang anak muda mungkin lebih memilih WhatsApp atau Instagram untuk bertanya kabar teman daripada bertatap muka.
Media digital memang praktis, cepat, dan memungkinkan komunikasi jarak jauh. Tapi di sisi lain, komunikasi langsung sering tergantikan, dan budaya lisan perlahan tersisih. Meski begitu, budaya lisan tidak hilang sepenuhnya. Bahkan, media digital kadang menjadi sarana melestarikan budaya lisan.
Banyak akun YouTube, TikTok, atau podcast yang membagikan cerita rakyat, pantun, atau diskusi tentang bahasa daerah. Misalnya, seorang kreator membacakan cerita rakyat Sunda di TikTok, dan ribuan orang menontonnya. Dengan begitu, budaya lisan bisa tetap hidup, tapi disalurkan lewat media modern.
Selain itu, budaya lisan tetap dibutuhkan dalam interaksi sosial. Misalnya, ngobrol langsung dengan teman atau keluarga memberikan pengalaman yang lebih personal dan mendalam. Nada suara, intonasi, dan ekspresi wajah menambah makna yang tidak bisa digantikan pesan teks.
Contohnya, saat seseorang bercerita tentang kesulitan yang dialami, respons empati teman lewat tatap muka terasa lebih hangat daripada hanya membalas emoji di chat. Tantangan terbesar adalah menjaga keseimbangan.
Media digital memudahkan komunikasi, tapi budaya lisan memberi kualitas interaksi yang lebih kaya. Anak muda bisa memanfaatkan teknologi untuk memperluas jangkauan, sekaligus tetap melatih kemampuan berbicara dan bercerita. Misalnya, belajar bahasa daerah melalui video call dengan orang tua atau mengikuti komunitas yang mengadakan storytelling online dan offline.
Budaya lisan dan media digital seharusnya tidak saling menggantikan, tapi saling melengkapi. Budaya lisan memberi kedalaman dan nuansa, sementara media digital memudahkan penyebaran dan akses. Dengan kesadaran dan kreativitas, budaya lisan tetap relevan, bahkan di tengah dominasi dunia digital. (UGP/YPA)