Tradisi Tolak Bala di Sariak Laweh

  • 09 Mar 2026 13:06 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Masyarakat Jorong Sariak Laweh hingga kini masih mempertahankan tradisi Tolak Bala, sebuah budaya Minangkabau yang dipercaya dapat mengusir berbagai hama dan gangguan pada tanaman pertanian, seperti padi dan tanaman lainnya. Tradisi ini menjadi bagian dari kearifan lokal yang terus dijaga secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.

Kegiatan Tolak Bala biasanya dilaksanakan di area persawahan. Prosesi diawali dengan membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an di atas pematang sawah, yang dilakukan oleh para tokoh masyarakat dan petani. Setelah itu, kegiatan ditutup dengan rangkaian doa bersama yang bertujuan memohon perlindungan kepada Allah SWT agar tanaman terhindar dari berbagai gangguan yang dapat merusak hasil panen.

Salah seorang tokoh masyarakat Sariak Laweh, Bustari, menjelaskan bahwa tradisi ini telah menjadi kegiatan rutin masyarakat setiap tahunnya. Selain sebagai bentuk ikhtiar spiritual, kegiatan ini juga memiliki tujuan penting untuk melestarikan budaya Minangkabau sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda.

Menurut Bustari, masyarakat Sariak Laweh masih mempercayai bahwa doa dan kegiatan Tolak Bala ini dapat menjadi perantara untuk menjaga tanaman dari berbagai hama seperti tikus, burung, serta binatang lainnya yang kerap merusak sawah. Dengan dilaksanakannya tradisi ini, masyarakat berharap musim panen yang akan datang dapat menghasilkan panen yang memuaskan.

“Melalui kegiatan ini kita berharap tanaman terhindar dari gangguan hama sehingga pada musim panen nanti masyarakat bisa mendapatkan hasil yang baik,” jelas Bustari.

Di akhir kegiatan, Bustari juga menyampaikan harapannya kepada para anak kemenakan di Sariak Laweh agar terus menjaga dan melestarikan tradisi tersebut. Ia berharap nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur ini dapat terus diteruskan kepada generasi berikutnya.

“Kami berharap anak kemenakan yang ada di Sariak Laweh dapat terus melestarikan budaya ini, bahkan mengajarkannya kembali kepada generasi setelah mereka,” tambahnya.

Sebagai penutup kegiatan, Bustari juga menyampaikan rasa bangga dan terima kasih kepada seluruh masyarakat Jorong Sariak Laweh yang telah berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Apresiasi khusus juga diberikan kepada para ibu-ibu yang telah menyiapkan berbagai jenis kue dan hidangan yang diletakkan di pondok-pondok sawah untuk dinikmati oleh para bapak-bapak yang mengikuti kegiatan mengaji.

Tradisi Tolak Bala ini tidak hanya menjadi bentuk doa dan harapan bagi para petani, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan masyarakat dalam menjaga warisan budaya Minangkabau agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. (ER/YPA)

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita