Kenapa Scroll Media Sosial Tidak Pernah Cukup

  • 12 Mar 2026 09:58 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Kebiasaan menggulir media sosial sering terasa sulit dihentikan meskipun waktu sudah banyak terbuang. Seseorang bisa berniat membuka aplikasi hanya lima menit, tetapi tanpa sadar sudah berlalu satu jam. Fenomena ini bukan sekadar kurang disiplin, melainkan berkaitan dengan desain platform dan cara kerja otak manusia.

Salah satu penyebab utamanya adalah mekanisme infinite scroll yang membuat konten terus muncul tanpa batas. Fitur ini dirancang agar pengguna tidak perlu berhenti atau berpindah halaman, sehingga pengalaman terasa mulus dan tanpa jeda.

Menurut berbagai pembahasan di Harvard Business Review dan laporan riset perilaku digital, desain seperti ini meningkatkan durasi penggunaan karena menghilangkan “titik berhenti alami”.

Dari sisi neurosains, aktivitas scrolling memicu pelepasan dopamin setiap kali kita menemukan konten yang menarik. Sistem penghargaan di otak bekerja berdasarkan pola variable reward, yaitu imbalan yang tidak selalu bisa diprediksi. Konsep ini serupa dengan mekanisme mesin slot, di mana ketidakpastian justru membuat orang terus mencoba.

Selain itu, media sosial juga memenuhi kebutuhan psikologis dasar seperti rasa terhubung dan ingin tahu. Setiap notifikasi, komentar, atau unggahan baru menciptakan sensasi relevansi sosial yang sulit diabaikan. Menurut Psychology Today, kebutuhan akan validasi dan rasa kebersamaan dapat memperkuat kebiasaan membuka aplikasi berulang kali.

Pada akhirnya, scroll media sosial terasa tidak pernah cukup karena otak terus mencari rangsangan baru dan imbalan berikutnya. Tanpa batasan yang jelas, waktu mudah tersedot dalam alur konten yang tak berujung. Kesadaran diri, pengaturan waktu layar, dan jeda digital menjadi langkah penting agar teknologi tetap menjadi alat, bukan pengendali. (STP/YPA)

Rekomendasi Berita