Overthinking di Malam Hari, Itu Normal atau Tidak?
- 12 Mar 2026 10:38 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Overthinking di malam hari merupakan pengalaman yang cukup umum dialami banyak orang. Ketika suasana mulai tenang dan distraksi berkurang, pikiran justru terasa lebih aktif memutar ulang percakapan, rencana, atau kekhawatiran. Kondisi ini sering membuat seseorang sulit tidur meskipun tubuh sudah terasa lelah.
Secara psikologis, hal tersebut tergolong normal selama masih dalam batas wajar. Pada malam hari, otak tidak lagi sibuk dengan tuntutan aktivitas sehingga memiliki ruang untuk memproses emosi dan pengalaman yang tertunda. Menurut berbagai pembahasan dalam Psychology Today dan artikel kesehatan mental di Harvard Health Publishing, pikiran cenderung lebih reflektif saat lingkungan menjadi sunyi.
Namun, overthinking bisa menjadi tidak sehat jika terjadi hampir setiap malam dan memicu kecemasan berlebihan. Respons stres yang terus aktif dapat meningkatkan kadar kortisol sehingga tubuh sulit masuk ke fase tidur nyenyak. Dalam jangka panjang, kurang tidur dapat memperburuk suasana hati dan menurunkan konsentrasi di siang hari.
Faktor lain yang memperparah kondisi ini adalah kebiasaan menggunakan gawai sebelum tidur. Paparan cahaya biru dan arus informasi tanpa henti membuat otak tetap berada dalam mode waspada. Riset tentang ritme sirkadian menunjukkan bahwa kualitas tidur sangat dipengaruhi oleh kebiasaan sebelum tidur, termasuk stimulasi mental.
Overthinking di malam hari pada dasarnya manusiawi, tetapi tetap perlu dikelola agar tidak mengganggu kesehatan mental. Membuat rutinitas relaksasi, menulis jurnal sebelum tidur, atau melatih pernapasan dapat membantu pikiran lebih tenang. Dengan pengelolaan yang tepat, malam hari bisa kembali menjadi waktu istirahat, bukan ajang perdebatan panjang dengan diri sendiri. (STP/YPA)