Alasan Mengapa Harus Ada Mie di Malam Imlek

  • 16 Feb 2026 11:04 WIB
  •  Cirebon

RI.CO.ID, Cirebon – Malam Imlek, atau yang sering disebut sebagai Chuxi, adalah momen paling sakral dalam perayaan Tahun Baru Imlek. Ini adalah malam penghujung tahun dalam kalender lunar.

Pada malam Imlek, bagi yang merayakan biasanya momentum ini dijadikan sebagai waktu yang tepat bagi seluruh anggota keluarga inti hingga keluarga yang merantau untuk berkumpul bersama demi menikmati makan malam reuni. Tidak sekedar berkumpul biasanya meja makan juga akan dipenuhi dengan hidangan khas yang memiliki simbol keberuntungan, seperti hidangan ikan yang melambangkan kelimpahan rezeki, kemudian pangsit (Jiaozi) yang menyerupai bentuk uang kuno, simbol kemakmuran hingga mie panjang sebagai simbol umur panjang.

Jeremy Huang Wijaya tokoh budayawan Tionghoa asal Cirebon mengatakan, sajian mie pada malam Imlek, sudah ada dari jaman dinasti Hang hingga Tang. “Mie berasal dari Tiongkok China, sudah ada sejak 4000 tahun lalu pada jaman dinasti Han Timur. Sedangkan pada jaman Dinasti Tang (618 M-907M), Mie berkembang dengan aneka toping dan mie di sajikan setiap malam Imlek dan juga perayaan ulang tahun,” ujar Jeremy kepada RRI, Minggu, 15 Februari 2026.

Menurut Gary Crawford, seorang arkeolog di University of Toronto di Mississauga di Kanada, mengatakan penemuan mie berusia 4.000 tahun di Cina bukanlah sebuah kejutan. Untuk menentukan bahan pembuatan mie tersebut, maka para peneliti membandingkan bentuk dan pola butir pati dan sekam benih dalam mangkuk mie dengan tanaman modern.

Tim menyimpulkan mie tersebut dibuat dari dua jenis millet-Broomcorn dan jawawut. Hal tersebut merujuk pada salah satu penemuan arkeologis paling ikonik dalam sejarah kuliner, yaitu mie tertua di dunia yang ditemukan di situs Lajia, Tiongkok, pada tahun 2005.

Sementara itu Jeremy Huang juga mengatakan bahwa kehadiran mie dalam perjamuan malam Imlek bukan sekadar soal selera, melainkan sebuah simbolisme doa yang sangat kuat bagi masyarakat Tionghoa. Dalam tradisi, mie ini dikenal dengan sebutan "Siu Mie" atau Mie Panjang Umur.

“Dalam sajian mie, ada aneka toping, biasanya mie digoreng, ada ayam, udang dan telor puyuh diatasnya. Sajian mie dengan aneka toping dan telor diatasnya, mengandung arti harapan panjang umur, panjang rejeki dan panjang jodoh,” lanjutnya.

Sementara itu sajian mie dengan aneka toping mengandung arti panjang umur, panjang jodoh dan panjang rejeki juga hidup untuk ingat asal usulnya. Harus tangguh dalam segala kondisi kehidupan.

Seperti toping telor diatasnya mengandung arti dalam kehidupan tidak selalu bulat dan bundar, kadang kala lonjong tetapi semua harus dilewati. Telor juga mengandung arti ingat akan asal usul kehidupan.

Sedangkan toping ayam dan udang mengandung arti harus unggul di darat, laut dan udara. Secara visual, mie yang panjang dan tidak terputus melambangkan harapan akan usia yang panjang, kesehatan yang terus mengalir, dan rezeki yang tidak terputus.

Inilah alasan mengapa mie saat Imlek tidak boleh dipotong-potong saat dimasak atau disajikan. Di malam Imlek, tekstur mie yang kenyal dan liat juga melambangkan ketangguhan dalam menghadapi tantangan di tahun mendatang.

Rekomendasi Berita