Hari Bahasa Ibu Sedunia: Militansi Wong Dermayu Jaga Identitas Budaya

  • 17 Feb 2026 21:51 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Indramayu - Lembaga Basa dan Sastra Daerah (LBSD) bersama Pemerintah Kabupaten Indramayu rutin memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional atau Dina Basa Mimi Sejagat setiap Februari.

Upaya ini dilakukan untuk melestarikan bahasa Jawa Indramayu (Dermayu) di tengah tantangan zaman.

Salah satu rangkaian kegiatan berlangsung di Sanggar Mulya Bakti, Desa Tambi, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, pada Kamis, 12 Februari 2026. Acara tersebut melibatkan berbagai elemen mulai dari pelajar, guru, mahasiswa, hingga seniman lintas sanggar budaya.

Hari Bahasa Ibu Internasional sendiri merupakan keputusan UNESCO yang menetapkan setiap tanggal 21 Februari sebagai momentum dunia untuk menjaga keberagaman bahasa dan budaya.

Diskusi budaya ini menghadirkan sejumlah narasumber kompeten, di antaranya Supali Kasim, Agung Nugroho, Taufik Nasution, Wangi Indriya, Raden Culeng, Ray Mengku Sutentra, dan Faris Al Faisal. Selain diskusi, Ketua Dewan Kesenian Indramayu (DKI) Ray Mengku Sutentra bersama Selamet Suryadi turut membacakan puisi berbahasa Jawa Dermayu.

Acara semakin meriah dengan penampilan tari dari anak didik Sanggar Mulya Bakti di bawah bimbingan maestro tari Wangi Indriya.

Ketua DKI, Ray Mengku Sutentra, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas penyelenggaraan kegiatan ini.

Menurutnya, Dina Basa Mimi Sejagat bukan sekadar seremonial, melainkan fondasi bagi generasi muda. "Kegiatan ini merupakan bentuk edukasi pelestarian budaya daerah. Ini komitmen kita bersama menjaga bahasa Dermayu agar tidak punah sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat setempat," ujar Ray.

Di sisi lain, penggiat LBSD Indramayu, Supali Kasim, memberikan catatan reflektif mengenai posisi bahasa daerah dalam percaturan global. Mengutip pemikiran Francis Fukuyama dan Samuel Huntington, ia menyoroti bahwa bahasa daerah kini menjadi ajang perbenturan peradaban.

"Bahasa Dermayu selama ini sering dianggap sepele bahkan ada upaya memarginalkan dari pusat. Namun, sebagai milik kolektif, militansi wong Dermayu ternyata cukup tinggi," kata Supali dalam keterangannya. Ia menegaskan bahwa meski sering dipinggirkan, identitas bahasa lokal justru semakin menguat di tengah masyarakat. "Diinjak tapi tidak gepeng, dipinggirkan malah makin ke tengah. Wilujeng Dina Mimi Sejagat," ucapnya menutup.

Rekomendasi Berita