Harmoni Imlek Nusantara Simbol Kebersamaan dan Kolaborasi Budaya

  • 19 Feb 2026 13:58 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Budayawan Tionghoa Cirebon Jeremy Huang Wijaya menilai elemen visual pada logo tahun ini menekankan titik temu antara budaya Tiongkok dan Nusantara melalui nilai kebersamaan. Ia mencontohkan tradisi berbagi dodol sebagai simbol kedekatan dan hubungan yang erat antarmasyarakat.

Menurutnya, tradisi berbagi dodol bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi memiliki makna mempererat relasi sosial. “Bagi dodol ini bukan hanya sekadar bagi, tapi ketika kita membagi dodol itu mempererat,” ujarnya pada Kamis, 19 Februari 2026.

Jeremy menjelaskan dodol yang terbuat dari ketan memiliki makna simbolis tentang kedekatan dan keterikatan sosial. “Ketan itu menjadi lengket, kita juga harus menjalin hubungan dengan mereka yang lengket ini,” katanya.

Dalam konteks pembangunan, ia menekankan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari pengendalian unsur api. “Kita harus bersahabat dengan alam, menanam pohon untuk menetralkan panas,” ucapnya.

Selain itu, ia mendorong masyarakat untuk memperkuat toleransi serta mendukung program pemerintah sebagai bentuk kontribusi bersama. Ia menyebut hubungan antarmasyarakat lintas agama dan budaya perlu dijaga melalui sikap saling mengasihi dan menghargai.

Jeremy juga menyoroti akulturasi budaya Tionghoa yang telah berlangsung sejak lama di Cirebon, mulai dari kuliner hingga seni. Ia mencontohkan pengaruh kuliner seperti “chai/tsai” serta seni lukis kaca dan motif Megamendung sebagai hasil pertemuan budaya.

Dalam bidang seni pertunjukan, ia melihat kolaborasi budaya semakin berkembang melalui perpaduan tari topeng dan barongsai. “Integrasi budaya ditampilkan tari topeng dengan barongsai, ini harus dikembangkan,” ujarnya.

Rekomendasi Berita