Apa Manfaat dan Risiko Puasa Intermiten Bagi Kesehatan?
- 11 Mar 2026 10:00 WIB
- Cirebon
KBRI.CO.ID, Cirebon - Puasa intermiten kini semakin populer sebagai metode untuk menurunkan berat badan, mencegah penyakit kronis, hingga memperlambat penuaan. Para ahli menyatakan bahwa praktik ini dapat menurunkan tekanan darah tinggi, meningkatkan kognisi, dan memperbaiki kondisi diabetes jika dilakukan dengan benar.
Dilansir dari Nationalgeographic.com, Rabu, 11 Maret 2026, manfaat yang paling konsisten dari puasa ini adalah penurunan berat badan dan massa lemak tubuh yang signifikan dalam jangka panjang. Penelitian pada tahun 2025 menunjukkan bahwa metode ini lebih mudah dipertahankan dibandingkan dengan diet pembatasan kalori tradisional yang sering kali memicu kenaikan berat badan kembali.
Selain berat badan, puasa intermiten juga berkontribusi pada kesehatan jantung dengan memperbaiki kadar kolesterol dan trigliserida. Penurunan lemak perut membantu hati mengurangi produksi partikel pembawa lemak, sementara peningkatan aktivitas sistem saraf parasimpatis membantu menurunkan detak jantung.
Dalam hal pengaturan gula darah, puasa mampu meningkatkan sensitivitas insulin dan merangsang proses pembersihan sel alami yang disebut autofagi. Praktik ini sangat bermanfaat bagi penderita diabetes tipe 2 karena dapat menurunkan kadar glukosa serta mengurangi ketergantungan pada obat-obatan tertentu.
Meskipun memiliki banyak manfaat, puasa tetap memiliki risiko bagi individu yang mengonsumsi obat insulin karena adanya potensi hipoglikemia. Selain itu, penderita gangguan makan dan lansia yang rentan terhadap kehilangan massa otot juga disarankan untuk tidak melakukan praktik ini secara ekstrem.
Isu mengenai gangguan hormon pada wanita akibat puasa sering kali dianggap berlebihan oleh para peneliti karena minimnya bukti klinis pada manusia. Selama kebutuhan nutrisi harian tetap terpenuhi, puasa tidak terbukti mengubah konsentrasi hormon seks secara signifikan dalam jangka waktu satu tahun.
Penting untuk diingat bahwa puasa bukanlah solusi instan dan tidak dapat menggantikan pola hidup sehat yang mencakup olahraga rutin. Tanpa asupan protein yang cukup dan latihan beban, tubuh berisiko kehilangan massa otot dan tulang bersamaan dengan hilangnya lemak.
Para ahli menyarankan agar individu tetap menjaga hidrasi tubuh dengan baik dan mengonsumsi makanan kaya serat selama jendela waktu makan. Dibutuhkan waktu beberapa minggu bagi tubuh untuk beradaptasi agar rasa lapar berkurang dan perbaikan indikator kesehatan mulai terlihat secara nyata.