Film Setan Alas, Hutan Menutup Jalan Pulang Mereka

  • 07 Mar 2026 15:47 WIB
  •  Denpasar

RRI. CO.ID, Denpasar – Film bioskop “Setan Alas!” adalah horor Indonesia bergenre supernatural horror dengan sentuhan psikologis yang bermain di dua ruang sempit : vila tua yang pengap dan hutan lebat yang seolah hidup serta sengaja menutup jalan keluar bagi siapa pun yang berani masuk terlalu jauh. Ceritanya mengikuti sekelompok mahasiswa yang awalnya cuma ingin kabur sebentar dari penat tugas kuliah, tapi malah terjebak dalam permainan maut di wilayah yang bahkan penduduk lokal pun enggan sebut namanya keras‑keras. Sejak menit awal, film ini menanamkan rasa tidak nyaman lewat suasana sunyi, bunyi ranting patah yang tidak jelas sumbernya, dan kamera yang sering seperti mengintip dari balik pepohonan, seolah ada sesuatu di hutan itu yang mengamati setiap gerak mereka.

“Setan Alas!” disutradarai Yusron Fuadi, seorang pembuat film yang menyukai horor dengan bangunan tensi pelan tapi konsisten, bukan sekadar jump scare. Durasi film sekitar 1 jam 40 menit, cukup padat untuk membuat penonton berkeringat dingin tanpa merasa terlalu bertele‑tele. Film ini resmi tayang di jaringan bioskop utama seperti Cinema XXI, CGV, dan Cinepolis mulai 5 Maret 2026, dengan rating umur 17+ karena banyak adegan teror, kekerasan, dan atmosfer mencekam yang tidak cocok untuk penonton anak‑anak. Di jajaran pemain, kita bertemu lima tokoh utama: Budi, Ani, Iwan, Wati, dan Amir, yang masing‑masing membawa karakter dan ego sendiri‑sendiri—sebuah kombinasi yang awalnya terasa ringan, tapi berubah jadi bahan bakar paranoia ketika nyawa mulai melayang satu per satu.

Awalnya semua terasa biasa: Budi dan kawan‑kawannya memutuskan menghabiskan akhir pekan di sebuah vila tua terpencil di tengah hutan, alasan klasik “refreshing sebelum UAS” yang sering kita dengar. Mereka datang dengan tawa, kamera ponsel, dan rencana BBQ sederhana di halaman belakang vila. Suasana pertama malam masih penuh canda, meski beberapa tanda aneh sudah muncul: suara langkah di lantai atas padahal semua sudah di ruang tamu, pintu yang tadi jelas‑jelas dikunci tiba‑tiba menganga, dan bayangan seperti orang berdiri di tepi hutan ketika mereka pikir kamera sedang merekam vlog bercanda. Semua kejanggalan itu awalnya disapukan begitu saja sebagai “halusinasi karena kelelahan”, sampai pada satu pagi, salah satu dari mereka ditemukan tewas dengan cara yang tidak bisa dijelaskan secara wajar.

Sejak temuan mayat itulah, film menginjak pedal gas ke arah teror psikologis. Bukan hanya karena ada sesuatu yang jelas ingin mereka mati, tapi juga karena cara pikiran mereka mulai retak. Budi merasa ada yang mengawasi dari balik kaca, Ani mulai mendengar bisikan yang memanggil namanya dari dalam kamar mandi, Iwan bersikeras mencari logika di balik semua kejadian, Wati menangis tanpa henti, dan Amir—yang paling peka pada hal gaib—menjadi orang pertama yang menyebut bahwa mereka mungkin tidak hanya sedang “terjebak di vila”, melainkan di wilayah kekuasaan sesuatu yang jauh lebih tua dari manusia. Keputusan untuk lari ke hutan demi mencari bantuan justru membawa mereka ke labirin yang lebih mengerikan: setiap jalan yang diambil entah bagaimana selalu mengembalikan mereka ke titik yang sama, seolah hutan itu menutup diri dan menolak melepas mangsa yang sudah terlanjur masuk.

Di titik ini, “Setan Alas!” tidak hanya bermain di ranah supranatural, tapi juga menggali ketakutan yang muncul ketika kepercayaan antar teman mulai runtuh. Mereka mulai saling tuduh: siapa yang membuka pintu tengah malam, siapa yang menyembunyikan sesuatu tentang sejarah vila, siapa yang diam‑diam pernah datang ke tempat ini sebelumnya. Di tengah kekacauan itu, Amir semakin yakin bahwa ada kekuatan gelap yang mengatur skenario, bukan sekadar “setan numpang lewat” tapi entitas yang sengaja memainkan mereka seperti bidak. Setiap kali mereka mencoba membuat rencana—membagi kelompok, menandai pohon, atau meninggalkan jejak—rencana itu selalu dipatahkan oleh kejadian aneh yang membuat penonton ikut merasakan rasa “tidak berdaya di peta yang berputar”.

Menjelang klimaks, film membawa kita ke momen ketika batas antara hutan dan vila seolah lenyap; ruang‑ruang di dalam rumah terasa sepanjang hutan, sementara hutan jadi sesempit koridor sempit yang tak ada ujungnya. Teror datang bukan hanya dalam bentuk penampakan, tapi juga dalam bentuk waktu yang terasa membeku—jam dinding berhenti, matahari seolah tidak pernah benar‑benar terbit, dan mereka kehilangan hitungan berapa lama sudah terperangkap. Satu per satu rahasia pribadi yang mereka bawa ke vila itu ikut terbongkar, seolah “Setan Alas” tidak hanya ingin tubuh mereka, tapi juga rasa bersalah dan ketakutan terdalam yang selama ini mereka tutupi. Di sini, penonton dipaksa bertanya: apa sebenarnya yang lebih menakutkan—makhluk tak kasat mata di luar sana, atau sisi gelap diri sendiri yang muncul ketika semua pintu keluar tertutup?

Rekomendasi Berita