Risiko Medis Tidur tanpa Alas bagi Kesehatan Jangka Panjang

  • 11 Mar 2026 19:27 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Meskipun teknologi kasur pintar semakin canggih, sebagian masyarakat masih memilih tidur di lantai karena alasan sejuk atau kebiasaan. Para ahli kesehatan memperingatkan bahwa paparan langsung permukaan lantai terhadap tubuh manusia dapat memicu berbagai gangguan, mulai dari masalah pernapasan hingga nyeri sendi kronis.

Lantai adalah area dengan konsentrasi debu dan tungau tertinggi di dalam ruangan. Mengutip riset dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), tidur di lantai membuat hidung dan mulut berada sangat dekat dengan partikel debu, bulu hewan peliharaan, dan jamur. Hal ini dapat memicu reaksi alergi, asma, serta memperburuk kondisi sinusitis terutama pada malam hari saat suhu ruangan menurun.

Permukaan lantai, terutama yang berbahan keramik atau semen, memiliki sifat konduktor panas yang kuat artinya lantai akan menyerap panas tubuh secara konstan. Berdasarkan laporan medis dari Kementerian Kesehatan RI, paparan dingin yang terus-menerus pada bagian punggung dan dada dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah di saluran pernapasan.

Dalam jangka panjang, hal ini sering dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit paru-paru seperti efusi pleura (penumpukan cairan di paru). Berbeda dengan kasur modern yang didesain mengikuti lekuk tulang belakang, lantai memiliki permukaan yang keras dan tidak fleksibel.

Menurut Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI), tidur di lantai memberikan tekanan berlebih pada bagian bahu, pinggul, dan tulang ekor. Tanpa dukungan yang tepat, kurva alami tulang belakang akan dipaksa mendatar, yang memicu nyeri punggung bawah (low back pain) dan kekakuan otot saat bangun pagi.

Tidur di lantai meningkatkan risiko kontak langsung dengan serangga melata seperti semut, kecoa, atau bahkan kalajengking di area tertentu. Laporan dari Departemen Parasitologi Lingkungan menyebutkan bahwa permukaan lantai tidak pernah benar-benar steril meski sudah dibersihkan secara rutin. Bakteri yang terbawa dari alas kaki atau sisa makanan di lantai dapat dengan mudah berpindah ke pori-pori kulit saat terjadi kontak lama selama tidur.

Jika Anda terpaksa harus tidur di lantai, para ahli menyarankan penggunaan alas minimal seperti matras tipis atau sleeping bag untuk membatasi transfer suhu dingin dan mengurangi tekanan pada sendi. Menjaga kualitas tidur bukan hanya tentang durasi, tetapi juga tentang melindungi tubuh dari paparan lingkungan yang merugikan.

Rekomendasi Berita