Okupansi Anjlok, PHRI: Isu Soal Bali Digoreng Terus
- 23 Jan 2026 13:08 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menuding ada upaya dari pihak luar untuk menjatuhkan citra kepariwisataan Bali. Hal itu terlihat dari masifnya pemberitaan media asing soal sederet isu yang mengadang aktivitas sektor pelesiran Pulau Dewata.
Ketua Badan Pengurus Daerah (BPD) PHRI Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati mengakui adanya kampanye hitam (black campaign). Menurutnya permasalahan Bali yang diangkat terus menerus akan memengaruhi pandangan dan penilaian calon wisatawan mancanegara.
"Ada banyak persoalan yang memang selalu digoreng di luar negeri, dikembangkan isu-isu tersebut, katakanlah yang sekarang lagi ramai di luar negeri tentang pernyataan Pak Gubernur akan mengenakan biaya jaminan untuk wisatawan ke Bali. Ini kan wacana, dan masih digodok panjang," kata pria yang akrab disapa Cok Ace itu usai pelantikan kepengurusan BPD PHRI Bali, di Gedung Wiswa Sabha, Kantor Gubernur Bali, Jumat (23/1/2026).
Meski demikian, Cok Ace tidak memungkiri, pemerintah dan semua pihak berkewajiban menuntaskan permasalahan yang dihadapi Bali. Salah satu yang krusial adalah penanganan sampah.
"Isu sampah, ya, itu juga hal yang sensitif, mudah-mudahan lah bisa diatasi segera, saya rasa pemerintah sudah punya formulasinya," ucapnya.
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Bali, Dewa Made Indra di tempat yang sama menyebut pasang surut okupansi adalah hal biasa. Ia meminta situasi ini menjadi ajang introspeksi untuk membenahi kepariwisataan Bali ke arah lebih baik.
"Bahwa hal-hal seperti (kampanye hitam) itu tidak akan pernah berhenti. Ada anomali datang, antara kunjungan dengan okupansi. Itu teman-teman industri pasti mempelajari. Kita pemerintah melalui Dinas Pariwisata juga mempelajari," katanya.
"Setelah kita temukan masalahnya apa, kita carikan solusinya. Astungkara pasti akan ada solusinya, akan ketemu masalahnya, akar masalahnya ketemu, lalu kita pasti akan temukan alternatif solusi," lanjut Dewa Indra.
Dewa Indra mengatakan, kehidupan termasuk aktivitas wisata tidak akan pernah lepas dari masalah. Oleh karena itu semua pihak diminta menjadikan semua masalah itu sebagai pembelajaran untuk menuju situasi yang lebih baik.
"Pelajaran dari kasus-kasus tadi. Dari turbulensi-turbulensi pariwisata. Kan kita dibekali kapasitas intektual untuk mengenali masalah, dan kemudian mencari solusi," ujarnya.
"Kita percaya. Jangan pernah berharap pariwisata akan smooth terus, tidak ada guncangan, tidak ada anomali, tidak ada gangguan. Tidak pernah terjadi dalam dunia hari ini," tutup Dewa Indra.