Banjir Informasi, Kampus Tekankan Etika Digital

  • 18 Feb 2026 05:32 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende – Kampus memperkuat literasi digital dan etika mahasiswa sebagai respons terhadap banjir informasi dan rendahnya budaya verifikasi di ruang siber. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah penyebaran hoaks dan membangun komunikasi digital yang sehat.

Ketua Program Studi Sistem Informasi Universitas Flores, Benediktus Yoseph Bhae, S.Kom., M.T., mengatakan tantangan terbesar mahasiswa saat ini adalah arus informasi yang tidak terbendung. Ia menilai kebiasaan membagikan informasi tanpa memeriksa kebenarannya masih sering terjadi.

“Tantangan terbesar adalah banjir informasi dan budaya instan. Banyak mahasiswa lebih cepat membagikan informasi daripada memverifikasi kebenarannya,” ujarnya dalam dialog Literasi Digital bersama RRI, Selasa, 17 Februari 2026.

Ia menegaskan kemampuan berpikir kritis menjadi kunci dalam menyaring informasi digital. Tanpa verifikasi yang memadai, mahasiswa berpotensi ikut menyebarkan informasi keliru.

Benediktus juga menyoroti maraknya komentar negatif, ujaran kebencian, serta penyalahgunaan media sosial di kalangan mahasiswa. Fenomena tersebut menunjukkan literasi digital belum sepenuhnya diiringi kesadaran etika dalam berkomunikasi.

Sebagai langkah konkret, kampus menanamkan pemahaman tentang jejak digital melalui pembelajaran terintegrasi di kelas. Mahasiswa diingatkan bahwa aktivitas daring dapat memengaruhi reputasi pribadi dan peluang karier di masa depan.

Kampus juga mendorong mahasiswa terlibat dalam kerja praktik dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dilatih memanfaatkan teknologi untuk menyelesaikan persoalan nyata di lingkungan sekitar.

Ia menekankan kolaborasi antara kampus, keluarga, dan masyarakat diperlukan untuk memperkuat literasi digital generasi muda. Sinergi tersebut diharapkan membentuk kebiasaan bermedia yang bijak sehingga mahasiswa menjadi agen perubahan yang beretika dan berintegritas di ruang digital.

Rekomendasi Berita