Gerhana 3 Maret Beda dengan Supermoon yang Viral Tahun 2021
- 02 Mar 2026 17:13 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Jakarta – Fenomena Gerhana Bulan Total yang akan terjadi Selasa malam, 3 Maret 2026, dipastikan berbeda dengan Super Blood Moon yang sempat viral pada 2018 dan 2021. Meski sama-sama menampilkan warna merah tembaga, konfigurasi astronominya tidak identik.
Plt. Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, A. Fachri Radjab, menjelaskan perbedaan mendasar terletak pada posisi orbit Bulan terhadap Bumi.
Ia mengatakan sebutan Blood Moon muncul karena hamburan cahaya merah oleh atmosfer Bumi atau yang dikenal sebagai Hamburan Rayleigh. Saat Bulan sepenuhnya berada dalam bayangan umbra Bumi, permukaannya tidak gelap total, melainkan tampak berwarna merah.
Menurut Fachri, pada peristiwa 2018 dan 2021, gerhana terjadi saat Bulan berada di titik perigee, yakni posisi terdekat dengan Bumi. Kondisi tersebut membuat Bulan terlihat lebih besar dan lebih terang sehingga dikenal sebagai Super Blood Moon.
Sementara itu, Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 merupakan gerhana total murni. Bulan tetap akan tampak merah sempurna, namun posisinya tidak berada di titik perigee sehingga ukurannya terlihat normal.
Fachri juga menyebut konfigurasi gerhana yang serupa dengan peristiwa 3 Maret 2026 baru akan terulang sekitar 18 tahun mendatang. Ia menegaskan periode ulang gerhana dengan karakteristik yang mirip akan terjadi kembali dalam siklus tersebut.
Fenomena ini dapat disaksikan dengan mata telanjang selama kondisi cuaca mendukung. Masyarakat diimbau memilih lokasi terbuka dan memantau informasi prakiraan cuaca sebelum melakukan pengamatan.