Dokter Ingatkan Bahaya Resistensi Antibiotik

  • 09 Mar 2026 21:23 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Barat – Penggunaan antibiotik secara sembarangan dapat memicu resistensi antibiotik yang berbahaya bagi kesehatan. Hal tersebut disampaikan dr. Shaza Nathasya Sandakh dalam program Zona Edukasi RRI Labuan Bajo yang membahas topik Sakit Tenggorokan dan Ancaman Resistensi Antibiotik.

Menurut dr. Shaza, sebagian besar kasus sakit tenggorokan sebenarnya disebabkan oleh infeksi virus, bukan bakteri.

Ia menjelaskan sekitar 80 persen sakit tenggorokan berasal dari infeksi virus, yang biasanya disertai gejala flu seperti batuk, pilek, atau mata merah.

Sementara itu, infeksi bakteri seperti Streptococcus memiliki ciri berbeda, antara lain tidak disertai batuk tetapi sering muncul pembengkakan kelenjar leher atau bercak putih pada amandel.

Karena itu, penggunaan antibiotik tidak selalu diperlukan dalam kasus sakit tenggorokan.

“Antibiotik hanya boleh digunakan jika ada indikasi infeksi bakteri yang jelas berdasarkan pemeriksaan dokter,” ujar dr. Shaza.

Ia mengingatkan penggunaan antibiotik tanpa resep dokter menjadi salah satu penyebab utama resistensi antibiotik, yaitu kondisi ketika bakteri menjadi kebal terhadap obat yang seharusnya dapat membunuhnya.

Akibatnya, penyakit yang sebelumnya mudah diobati dapat menjadi lebih sulit ditangani.

Selain itu, pasien juga diwajibkan menghabiskan antibiotik sesuai dosis yang diberikan dokter, meskipun gejala sudah membaik.

Jika pengobatan dihentikan sebelum waktunya, bakteri yang masih hidup dapat bermutasi dan menjadi kebal terhadap obat.

dr. Shaza juga menegaskan masyarakat tidak boleh menggunakan sisa antibiotik milik orang lain atau memberikan obat tersebut kepada anggota keluarga yang memiliki gejala serupa.

Untuk penanganan awal sakit tenggorokan di rumah, ia menyarankan beberapa langkah sederhana.

Di antaranya memperbanyak minum air putih, berkumur dengan air garam hangat atau cairan antiseptik, serta beristirahat cukup agar sistem imun tubuh dapat melawan infeksi secara alami.

Namun jika sakit tenggorokan disertai demam tinggi, kesulitan menelan atau bernapas, serta berlangsung lebih dari satu minggu, masyarakat dianjurkan segera memeriksakan diri ke dokter.

Melalui edukasi ini, diharapkan masyarakat semakin memahami penggunaan antibiotik yang tepat sehingga risiko resistensi obat dapat dicegah.

Rekomendasi Berita