Perlu atau Tidak Minum Suplemen saat Puasa? Ini Kata Ahli Gizi
- 21 Feb 2026 12:13 WIB
- Entikong
RRI.CO.ID, Entikong - Puasa tak hanya menjadi momentum ibadah, tetapi juga kesempatan memperbaiki pola makan dan metabolisme tubuh. Namun, konsumsi vitamin dan suplemen tetap perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing individu.
Ahli Gizi RSUD M.Th. Djaman Sanggau, Dwi Mustika Wati, mengatakan konsumsi vitamin dan suplemen tidak selalu dibutuhkan oleh setiap orang. Ia mengungkapkan bahwa individu dengan kondisi kesehatan tertentu memang dianjurkan mengonsumsinya, namun bagi orang sehat, asupan dari makanan sehari-hari umumnya sudah mencukupi.
“Untuk orang normal sehat sebenarnya tidak terlalu dianjurkan mengonsumsi vitamin atau suplemen tambahan, asalkan kebutuhan gizinya tercukupi dari makanan sehari-hari,” kata Dwi dalam Obrolan Ramadhan RRI Entikong, Kamis, 19 Februari 2026.
Ada beberapa kelompok kata Dwi yang memang dianjurkan mengonsumsi suplemen, seperti ibu hamil dan remaja putri yang rentan anemia. Pada ibu hamil, kebutuhan zat besi meningkat dan penyerapannya akan lebih optimal bila dibarengi dengan konsumsi vitamin C.
“Pada ibu hamil memang diperlukan tambahan seperti zat besi, dan penyerapannya akan lebih baik jika disertai vitamin C. Remaja putri atau wanita yang rentan anemia juga bisa mengonsumsi suplemen sesuai anjuran tenaga kesehatan,” ungkap Dwi.
Ia katakan, bagi penyandang diabetes atau individu dengan penyakit tertentu, konsultasi dengan dokter sangat penting sebelum mengonsumsi vitamin tambahan. Menurutnya, kebutuhan vitamin dan mineral pada penderita penyakit tertentu harus disesuaikan dengan kondisi medis masing-masing agar tidak menimbulkan dampak yang merugikan.
“Intinya tetap berkonsultasi dengan dokter apabila memiliki penyakit tertentu yang mengharuskan konsumsi suplemen tambahan. Namun jika pola makan sudah memenuhi prinsip gizi seimbang, sebenarnya kebutuhan tubuh dapat tercukupi dari makanan sehari-hari,” jelasnya.
Dwi mengatakan puasa juga membawa sejumlah perubahan metabolisme yang berdampak positif bagi tubuh. Setelah sekitar delapan jam berpuasa, tubuh mulai membakar cadangan lemak sebagai sumber energi, yang dapat berkontribusi pada penurunan berat badan jika diimbangi pola makan yang tepat saat sahur dan berbuka.
Dwi mengimbau masyarakat agar tidak berlebihan saat berbuka puasa dengan mengonsumsi gula, lemak, dan makanan asin secara berlebihan. Dengan menerapkan gizi seimbang serta berkonsultasi kepada tenaga kesehatan bila diperlukan, manfaat puasa bagi kesehatan dapat diraih secara maksimal.