Antropolog Pendidikan Karakter: Pesantren Kilat Bentuk Watak Anak

  • 14 Feb 2026 18:33 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo - Pesantren kilat di bulan Ramadan dinilai bukan sekadar kegiatan tambahan tahunan, melainkan ruang paling nyata dalam pembentukan karakter anak. Antropolog Pendidikan Karakter, Husin Ali, menegaskan pesantren kilat harus dimaknai sebagai proses pembelajaran sikap, bukan hanya rutinitas seremonial. Selama ini masih ada praktik pesantren kilat yang sebatas formalitas, di mana anak duduk, mendengar ceramah, lalu pulang tanpa pengalaman bermakna. Padahal, esensi kegiatan tersebut terletak pada pembiasaan dan keteladanan.

“Pesantren kilat bukan kegiatan dokumentasi di mana anak hanya duduk dan dengar ceramah. Ini ruang pembentukan watak yang paling nyata di bulan Ramadan,” ucap Husin Ali pada dialog interaktif RRI, Sabtu 14 Februari 2026.

Ia menekankan anak belajar lebih banyak dari sikap orang dewasa di sekitarnya dibandingkan dari jadwal kegiatan yang padat. Keteladanan guru dan orang tua selama Ramadan justru menjadi kurikulum utama yang membekas dalam ingatan anak.

“Anak belajar dari apa yang kita lakukan, bukan hanya dari apa yang kita ajarkan. Mereka meniru, merasakan, dan mengalami langsung suasana itu,” kata Husin Ali.

Husin juga mengingatkan keberhasilan pesantren kilat tidak diukur dari seberapa padat atau terstrukturnya jadwal kegiatan. Indikator utamanya adalah perubahan sikap kecil namun nyata dalam keseharian anak.

“Pesantren Kilat yang sukses bukan dilihat dari jadwal yang penuh, tetapi dari perubahan sikap kecil yang terlihat setelahnya. Itu yang harus dibuat bermakna agar anak tidak lupa,” tambahnya.

Ia menutup dengan penekanan anak mungkin akan melupakan materi ceramah, tetapi mereka tidak akan lupa pada perasaan yang dialami selama Ramadan.

“Anak mungkin lupa isi materi, tetapi mereka akan ingat apakah Ramadan membuat mereka merasa dicintai, dihargai, dan dituntun untuk merasakan kehidupan pesantren meski singkat,” ucap Husin Ali.

Rekomendasi Berita