Novel Gadis Kretek Resmi diterjemahkan ke Bahasa Korea
- 15 Mar 2026 15:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Seoul - Novel Gadis Kretek, karya penulis Indonesia Ratih Kumala secara resmi diterjemahkan ke dalam Bahasa Korea Selatan. HansaeYes24 Foundation memfasilitasi karya Ratih dapat dinikmati pencinta sastra di Korea.
Chairperson HansaeYes24 Foundation, Baek Soomi mengatakan, sastra Asia Tenggara memiliki nilai penting dalam memperkaya dialog budaya di Korea. Ia menegaskan, Korea membuka diri atas karya sastra dari negara lain.
Baek Soomi mengatakan, pertukaran budaya melalui literatur dapat memperluas perspektif pembaca sekaligus memperkuat pemahaman lintas budaya. Baek berharap, penerbitan Gadis Kretek akan memperluas apresiasi terhadap sastra Asia Tenggara di Korea.
“Di saat K-Culture mendapat perhatian besar dari dunia, Korea juga perlu membuka diri terhadap berbagai karya sastra dari budaya lain. Saya harap memperkuat jembatan budaya antara kedua kawasan,” kata Baek Soomi, dalam peluncuran novel Gadis Kretek terjemahan Bahasa Korea, di ASEAN-Korea Centre (AKC), Seoul, seperti dalam keterangan tertulis yang diterima oleh awak media, Minggu, 15 Maret 2026.
Sementara itu, penulis Novel Gadis Kretek, Ratih menyampaikan apresiasi atas peluncuran novel berbahasa Korea. Ia mengatakan, inspirasi utamanya dari kakeknya yang merupakan seorang pengusaha kretek di Jawa Tengah.
“Inspirasi utamanya adalah dari almarhum kakek dari pihak ibu yang dulu ternyata seorang pengusaha kretek di kota kecil di Jawa Tengah. Dari situ menciptakan sendiri karakter serta alur cerita fiksi sejarah hingga akhirnya terbentuklah kisah Gadis Kretek,”kata Ratih.

Adapun Duta Besar RI untuk Korea, Cecep Herawan mengatakan peluncuran novel merupakan bagian untuk memperkuat diplomasi budaya. Diplomasi melalui literatur sekaligus memperkenalkan kekayaan sastra Indonesia kepada masyarakat Korea.
“Penerbitan Gadis Kretek dalam bahasa Korea bukan sekadar penerjemahan sebuah novel. Tetapi juga merupakan komitmen bersama untuk memperluas pertukaran budaya antara Indonesia dan Korea,” kata Dubes Cecep.
Cecep mengatakan, Indonesia dan Korea memiliki hubungan baik dibidang ekonomi. Ia berharap dengan kehadiran novel Gadis Kretek, akan saling memahami nilai sejarah dan budaya masing-masing negara.
“Selama ini Indonesia dan Korea telah menikmati hubungan ekonomi dan diplomatik yang kuat. Namun melalui kisah-kisah seperti Gadis Kretek, kita dapat lebih memahami nilai, sejarah, dan kehidupan masyarakat masing-masing negara,”ujarnya.
Pihaknya memberikan apresiasi kepada HansaeYes24 Foundation yang berkomitmen memperkenalkan karya sastra Asia Tenggara kepada masyarakat Korea. Gadis Kretek merupakan karya sastra Indonesia kedua yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh yayasan tersebut.

Sebelumnya novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka yang diterbitkan pada tahun 2022. Novel Gadis Kretek pertama kali diterbitkan di Indonesia pada tahun 2012 oleh Gramedia Pusaka Utama.
Kisah Gadis Kretek semakin populer setelah diadaptasi menjadi serial Netflix dengan judul yang sama dengan novel ‘Gadis Kretek’. Serial yang dibintangi Dian Sastrowardoyo, resmi rilis pada 2023.
Selama di Korea, Ratih hadir diberbagai acara promosi buku seperti Book Talk di Seoul Film Center pada 13 Maret 2026. Forum tersebut mempertemukan dengan penikmat sastra.
Ratih Kumala juga menghadiri acara Book Concert bertajuk ‘Beyond the Smoke’. Acara digelar di National Asian Culture Center, di Kota Gwangju pada 14 Maret 2026.
Peluncuran buku tersebut diselenggarakan oleh HansaeYes24 Foundation dalam rangkaian Southeast Asian Literature Series. Sebuah inisiatif untuk memperkenalkan karya sastra dari negara-negara Asia Tenggara kepada pembaca Korea.
Melalui seri ini, berbagai karya sastra pilihan dari kawasan Asia Tenggara diterjemahkan ke dalam Bahasa Korea agar dapat diakses oleh masyarakat luas. KBRI Seoul juga berkolaborasi dengan HansaeYes24 Foundation untuk memperkenalkan aspek lain dari kekayaan budaya Indonesia.
Selain mempromosikan karya sastra, KBRI Seoul turut menghadirkan kopi khas Indonesia dari Gayo dalam bentuk drip bag coffee. Oleh sebab itu, masyarakat Korea tidak hanya mengenal Indonesia melalui literatur, tetapi juga melalui cita rasa kopi Nusantara.