BRIN Siap Menyongsong Era Industri Kedirgantaraan
- 10 Mar 2026 11:46 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan kesiapan Indonesia untuk menyongsong era baru industri kedirgantaraan yang semakin berkembang di kawasan Asia Tenggara. Komitmen tersebut ditegaskan melalui partisipasi BRIN dalam ajang Space Summit 2026 di Singapura, yang mempertemukan lembaga antariksa, industri global, serta pemangku kepentingan teknologi antariksa dari berbagai negara.
Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Robertus Heru Triharjanto, menjelaskan bahwa dalam rangka menyongsong era industri kedirgantaraan, BRIN berperan aktif dalam memperkuat ekosistem industri antariksa nasional, mulai dari pengembangan teknologi hingga penyiapan sumber daya manusia. “Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang Indonesia untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi antariksa, tetapi juga pemain dalam rantai industri global,” ujar Heru, saat diwawancarai tim Humas BRIN, Senin, 9 Maret 2026.
Menurut Heru, BRIN telah memfasilitasi berbagai inisiatif untuk memperkuat ekosistem keantariksaan nasional. Di antaranya adalah dukungan terhadap pembentukan sejumlah organisasi profesional seperti Asosiasi Antariksa Indonesia (ARIKSA), Masyarakat Penginderaan Jauh Indonesia (MAPIN), serta Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) yang berperan dalam memperkuat kolaborasi antara peneliti, industri, dan pengguna teknologi antariksa di Indonesia.
Selain penguatan kelembagaan, BRIN juga mendorong kolaborasi dengan industri nasional dalam pengembangan teknologi satelit. “Salah satu langkah konkret adalah kerja sama pengembangan sistem dan subsistem satelit bersama PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian teknologi satelit nasional,” kata Heru.
Dalam aspek pengembangan sumber daya manusia, BRIN bersama perguruan tinggi turut menyiapkan tenaga profesional bagi industri antariksa nasional. Program magang bagi mahasiswa serta bimbingan teknis bagi profesional disediakan untuk meningkatkan kapasitas dalam pengolahan data penginderaan jauh dan pengoperasian satelit orbit rendah.
Tidak hanya di tingkat nasional, BRIN juga berkontribusi dalam ekosistem industri antariksa global. Melalui fasilitas stasiun bumi yang dimiliki, BRIN mendukung kegiatan pelacakan peluncuran dan operasi satelit yang dilakukan oleh lembaga antariksa internasional seperti Indian Space Research Organisation (ISRO) dan perusahaan peluncuran satelit Skyroot Aerospace.
BRIN juga aktif mempromosikan potensi wilayah Indonesia sebagai lokasi bandar antariksa yang dapat dimanfaatkan oleh penyedia layanan peluncuran satelit global. Posisi geografis Indonesia yang strategis di wilayah ekuator dinilai memiliki keunggulan bagi aktivitas peluncuran satelit.
Dalam pengembangan jangka panjang, BRIN bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) tengah menyusun peta jalan ekonomi antariksa Indonesia. Peta jalan ini diharapkan menjadi dasar pengembangan industri antariksa nasional yang terarah dan berkelanjutan.
Sementara itu, arah riset BRIN di bidang keantariksaan difokuskan pada penguasaan teknologi satelit penginderaan jauh dan pengembangan Space Situational Awareness (SSA). Kedua bidang ini dinilai penting untuk mendukung berbagai kebutuhan nasional, termasuk pemantauan lingkungan, mitigasi bencana, serta keamanan wilayah.
Pengembangan konstelasi satelit penginderaan jauh nasional juga tengah diusulkan BRIN kepada pemerintah. Pada tahap awal satelit akan dikembangkan melalui kerja sama internasional, sedangkan pada fase berikutnya direncanakan dapat dibangun secara mandiri di dalam negeri.
Direktur Eksekutif Indonesian National Space Agency (INASA) BRIN, Prof. Erna Sri Adiningsih yang turut menghadiri Space Summit 2026 di Singapura pada 2-3 Februari 2026, menilai perkembangan industri antariksa di Asia Tenggara dalam lima tahun terakhir menunjukkan peningkatan yang signifikan. Hal ini terlihat dari semakin kuatnya infrastruktur antariksa serta meningkatnya keterlibatan sektor swasta dalam industri tersebut.
Menurut Erna, teknologi antariksa kini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat, mulai dari layanan navigasi, konektivitas digital, prakiraan cuaca, hingga pemantauan pertanian dan manajemen bencana. “Karena itu, investasi dalam teknologi antariksa tidak hanya berkaitan dengan sains, tetapi juga merupakan investasi strategis bagi pembangunan ekonomi dan layanan publik,” ujar Erna.
Melalui penguatan riset, kolaborasi internasional, serta pembangunan ekosistem industri, BRIN optimistis Indonesia dapat mengambil peran yang lebih besar dalam industri kedirgantaraan global. “Dengan memanfaatkan potensi geografis, sumber daya manusia, serta dukungan kebijakan nasional, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pasar teknologi antariksa, tetapi juga pemasok dalam rantai industri keantariksaan dunia,” kata Erna. (pur)