BRIN Optimalkan Nikel dan Kobalt dari Daur Ulang Baterai Bekas
- 12 Mar 2026 11:57 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan riset optimasi perolehan nikel dan kobalt dari baterai bekas untuk mendukung penyediaan bahan baku teknologi transisi energi. Perekayasa Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Material BRIN, Nur Vita Permatasari, mengatakan nikel dan kobalt merupakan komponen utama baterai kendaraan listrik, perangkat elektronik, dan sistem penyimpanan energi.
Seiring meningkatnya penggunaan teknologi tersebut, kebutuhan baterai litium diperkirakan akan terus bertambah. “Daur ulang baterai bekas tidak hanya menyediakan sumber logam kritis, tetapi juga menghasilkan jejak lingkungan dan kebutuhan energi yang lebih rendah dibandingkan penambangan,” jelas Vita, dalam Webinar ORNAMAT #82, Selasa 10 Maret 2026.
Vita menjelaskan baterai litium-ion bekas berpotensi menjadi sumber nikel dan kobalt melalui konsep urban mining, karena kandungan logamnya relatif lebih tinggi dibandingkan tambang primer. Penelitian ini menggunakan metode pelindian (leaching) yang dioptimalkan dengan response surface method (RSM) untuk meningkatkan efisiensi pemulihan logam kritis.
Ia menambahkan selain dari penambangan, nikel dan kobalt juga dapat diperoleh dari sumber sekunder yang masih mengandung logam bernilai, seperti limbah industri metalurgi, limbah papan sirkuit elektronik (PCB), dan baterai bekas. Katoda baterai litium bekas bahkan memiliki kandungan nikel dan kobalt yang relatif tinggi dibandingkan kandungan dalam bijih, sehingga berpotensi menjadi sumber urban mining.
Penelitian diawali dengan penyiapan blackmass, yaitu serbuk aktif dari katoda baterai litium bekas. Baterai dipisahkan dari pembungkusnya, direndam dalam larutan natrium klorida (NaCl) 5 persen selama 24 jam, kemudian diperkecil ukurannya dan dipanaskan pada suhu sekitar 700 derajat celsius selama satu jam untuk menghilangkan bahan pengikat dan komponen organik.
Serbuk katoda selanjutnya dipisahkan dari lembaran aluminium, dicuci, dan dikeringkan untuk memperoleh blackmass. Material ini kemudian dikarakterisasi menggunakan x-ray diffraction (XRD) dan x-ray fluorescence (XRF) sebelum proses pelindian.
Hasil analisis menunjukkan blackmass mengandung kobalt 30,4 persen, nikel 21,7 persen, mangan 26 persen, dan besi 4,4 persen. Analisis XRD juga mengidentifikasi grafit serta senyawa lithium cobalt oxide sebagai komponen utama katoda.
Pada tahap eksperimen, penelitian menguji tiga variabel utama, yaitu rasio padatan–cairan, konsentrasi asam sulfat, dan temperatur pelindian melalui 15 kali percobaan untuk menentukan kondisi optimum. Hasilnya menunjukkan peningkatan konsentrasi asam sulfat dan temperatur pelindian meningkatkan kelarutan logam, dengan perolehan nikel 80–95 persen dan kobalt 85–98 persen.
Optimasi menggunakan response surface method (RSM) menunjukkan kondisi terbaik pada rasio padatan cairan sekitar 2 persen, konsentrasi asam sulfat 1,5 molar, dan temperatur 79,38 derajat celsius. Pada kondisi tersebut, perolehan nikel mencapai 99,9 persen dan kobalt 97,8 persen dengan akurasi prediksi model yang baik berdasarkan analisis ANOVA.
Vita menegaskan baterai litium bekas berpotensi besar sebagai sumber sekunder logam kritis seperti nikel dan kobalt. Ke depan, penelitian ini diharapkan dapat dikembangkan pada skala lebih besar dan diintegrasikan dalam proses daur ulang baterai di tingkat industri.
Kepala Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material BRIN, Ratno Nuryadi, berharap riset ini dapat memperkuat program pengembangan logam kritis nasional, meningkatkan efisiensi produksi, serta mendukung Indonesia menjadi pusat pengolahan logam strategis yang mandiri dan berkelanjutan. (dh/ed:jh, tnt)